Dansektor 21 Satgas Citarum: Limbah Industri Membuat Anak Menjadi Kuntet

IMG-20180907-WA0007-1

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat menegaskan, limbah industri yang dibuang ke Sungai Citarum memiliki bahaya yang luar biasa, bahkan mampu membuat anak-anak dan generasi ke depan menjadi kuntet (Stunting).

Hal ini ditegaskan Dansektor 21 saat menjadi pembicara di acara Global Health Leaders: One Health in Action, Kamis, (6/9/2018), di Hotel Aston Tropicana jalan Cihampelas Bandung, acara ini diselenggarakan oleh Indonesia One Health University Network (INDOHUN).

Dansektor 21 di acara Global Health Leaders menyampaikan materi, “Strategi Negosiasi dan Advokasi Dalam Pelestarian Sungai Citarum”.

“Sungai Citarum merupakan urat nadi 27 juta warga Jawa Barat dan DKI Jakarta, dan masalah yang dihadapi Citarum yaitu, sampah permukaan, limbah domestik dan industri, kotoran hewan dan manusia, bangunan di bantaran sungai, serta alih fungsi hutan di kawasan hulu,” kata Dansektor 21 di awal paparannya.

“Seperti diketahui lebih dari 3.000 industri membuang limbahnya ke Sungai Citarum, hal ini memiliki bahaya yang luar biasa, karena limbah industri atau The Silent Killer bila tidak diatasi mampu membuat anak-anak dan generasi ke depan menjadi Stunting atau kuntet,” ungkap Dansektor 21, “Bayangkan sebanyak 460 ribu meter kubik limbah industri dan rumah tangga masuk ke Sungai Citarum,” ujarnya.

Lebih lanjut Dansektor 21 mengatakan, teori untuk mengatasinya adalah dengan penegakan hukum, pembangunan IPAL terpadu, pemasangan CCTV di pabrik, dan memasang alat monitoring kualitas air.

IMG-20180907-WA0003

“Tetapi saat itu hal tersebut belum terlaksana, maka sejak April 2018, Sektor 21 Satgas Citarum melaksanakan penutupan lubang saluran pembuangan limbah pabrik yang membuang hasil olahannya dalam kondisi masih kotor, berwarna, dan suhunya panas,” ungkap Dansektor 21.

“Untuk diketahui, melalui Perpres No.15 Tahun 2018, TNI bertanggungjawab dalam pengendalian dan penataan ekosistem di DAS Citarum,” ungkap Dansektor 21.

“Persoalan sampah permukaan kini sudah 90 persen teratasi, tetapi sampah yang ada di masyarakat masih terkendala keterbatasan jumlah TPS, armada pengangkut, dan TPA,” kata Dansektor 21.

“Sampah ribuan ton per hari dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat seluruhnya dibuang ke satu TPA yaitu TPA Sarimukti,” ungkap Dansektor 21, “Diperkirakan TPA Sarimukti hanya mampu menampung 20 persen dari total keseluruhan sampah,” ujarnya.

“Bahkan saya sempat menemukan di wilayah Baleendah terdapat tumpukan sampah di dalam gang yang jumlahnya hampir setinggi rumah, selain itu keterbatasan TPS menimbulkan tumpukan sampah di bantaran Sungai Citarum,” tegas Dansektor 21.

“Banjir juga menjadi perhatian, karena berdampak munculnya beragam penyakit,” kata Dansektor 21, “Persoalan lainnya yaitu keramba jaring apung di tiga waduk yaitu Saguling, Cirata dan Jatiluhur,” ungkapnya.

IMG-20180907-WA0005

“Pakan ikan yang menumpuk didasar waduk, dapat menimbulkan zat-zat tertentu yang mampu membunuh ikan, maka saya menghimbau untuk tidak mengkonsumsi ikan dari waduk-waduk tersebut, karena mengandung bakteri dan terkontaminasi limbah,” tegas Dansektor 21.

Terkait pengecoran lubang saluran limbah pabrik yang mencemari sungai Citarum oleh Sektor 21 Satgas Citarum, Dansektor 21 mengungkapkan, tindakan pengecoran cukup efektif, karena pabrik kemudian membenahi IPAL-nya.

“Dari hampir 50 pabrik yang saya inspeksi, rata-rata pabrik tersebut sanggup mengolah limbahnya hingga outputnya jernih,” ungkap Dansektor 21, “Di samping itu, pada bak indikator outlet saya sarankan untuk diisi ikan koi, jika ikan itu hidup, berarti olahan limbah pabrik yang dibuang ke sungai tidak membahayakan ekosistem,” ujarnya.

Tentang bangunan di bantaran sungai Citarum yang secara sukarela dibongkar sendiri oleh pemiliknya, Dansektor 21 mengungkapkan, bangunan yang dibongkar disepanjang bantaran sungai, pembenahan IPAL pabrik, dan edukasi kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai, dilakukan dengan cara komunikasi dari hati ke hati.

“Masyarakat juga bisa paham, asalkan kita bekerja secara jujur dan ikhlas, karena masyarakat juga yang akan menilai,” pungkas Dansektor 21.

Kegiatan Global Health Leaders: One Health in Action yang diselenggarakan INDOHUN dilaksanakan, (2-6/9/2018), sebelumnya pada 4 September 2018 para peserta yang terdiri dari pegawai dari berbagai dinas, praktisi kesehatan, dan peneliti mengunjungi Cibaligo Cimahi untuk mempelajari kualitas air sungai di wilayah Sektor 21 Satgas Citarum, Subsektor 21-13 untuk mengetahui kualitas dan kelayakan air di daerah pemukiman warga, yang selanjutnya akan dianalisis.

Penelitian ini selain melibatkan lembaga riset dari UI dan ITB, juga melibatkan Medicuss Group. (BRH / ST)

Comments are closed.