Jembatan Senilai 12 Miliar Rupiah di Unpad Jatinangor Mangkrak

ARCOM.CO.ID ,Jatinangor. Sekretaris Direktorat Sarana Prasarana Universitas Padjadjaran (Unpad) Edward Henry, S.IP., M.M., mengklaim jembatan di Unpad Jatinangor yang menghubungkan antara jalan utama dengan kampus Unpad (sebelah rektorat Unpad Jatinangor) senilai 12 miliar rupiah dan tidak dilewati selama dua tahun serta ditutup pagar besi tidak ada apa-apa, walaupun fakta di lapangan jembatan tersebut banyak retakan yang cukup besar dan tanah di bahu jembatan tersebut amblas.

Hal tersebut diungkapkan Edward Henry kepada awak media, Kamis, (4/10/2018), di kawasan Unpad Jatinangor jalan Raya Bandung Sumedang Jatinangor Kabupaten Sumedang.

“Sebenarnya jembatan tersebut tidak ada apa-apa, jadi begini, sebetulnya jembatan itu tidak dipergunakan karena hanya masalah rekayasa lalu-lintas saja,” kata Edward Henry di awal pernyataannya, “Rektor terdahulu yaitu Ganjar Kurnia pernah memutuskan bahwa apabila masuk ke lingkungan Unpad harus lewat utara, dan bagian selatan ditutup,” ungkapnya, “Kemudian setelah ganti Rektor menjadi Tri Hanggono Achmad kebijakan berubah lagi, yaitu pintu masuk di depan dibuka namun di utara ditutup, jadi sebenarnya jembatan itu sendiri tidak ada apa-apa,” ujarnya.

Lebih lanjut mengenai kondisi jembatan, Edward Henry menganalogikan pasti sebuah rumah temboknya terdapat belahan dan retak-retak, “Jadi sama dengan kondisi jembatan tersebut,” ujarnya.

Edward Henry menampik jembatan tersebut tidak bisa digunakan, “Konstruksi jembatan tersebut tidak ada apa-apa, bahkan pihak Unpad telah melakukan tes terhadap jembatan terebut secara keilmuan dengan menggunakan jasa orang-orang Geofisika atau ahli tanah dari Unpad, dan kesimpulannya jembatan tersebut tidak ada apa-apa,” ujarnya.

“Terjadi retakan memang betul dan di area masuk jembatan terjadi penurunan tanah sedikit sehingga menyebabkan tembok pinggir jembatan retak, tetapi jembatannya itu sendiri tidak retak, karena yang disebut jembatan adalah bagian tengahnya,” tegas Edward Henry, “Itu saja masalahnya, dan tidak ada masalah lain,” ungkapnya.

Edward Henry mengungkapkan, pembangunan jembatan berlangsung tahun 2012 di masa kepemimpinan Rektor Ganjar Kurnia, “Akhirnya jembatan tersebut ditutup akhir tahun 2015 atau 2016 awal,” ujarnya.

Edward Henry sekali lagi menegaskan, jembatan ditutup karena rekayasa lalu-lintas, dan bukan karena kondisi tembok jembatan retak, “Pihak Unpad berencana akan memperbaiki jembatan tersebut, namun ada pembangunan yang lebih diprioritaskan, yaitu perbaikan jalan Cileles di sekitar Rektor Unpad Jatinangor yang aspalnya sudah mengelupas  karena hujan, maka pihak Unpad lebih memprioritaskan perbaikan jalan Cileles terlebih dahulu,” ungkapnya.

Di akhir paparannya, Edward Henry mengatakan, pihak Unpad masih mempunyai jalan masuk alternatif selain melewati jembatan senilai 12 miliar rupiah yang saat ini ditutup.

Mangkraknya atau terbengkalainya Jembatan di Unpad Jatinangor yang menghubungkan antara jalan utama dengan kampus Unpad (sebelah rektorat Unpad Jatinangor) senilai 12 miliar dan tidak dilewati selama dua tahun, seperti diketahui dana pembangunannya didapat dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Unpad yang kala itu Ketua Lelangnya Edward Henry, S.IP., M.M., yang kini menjabat sebagai Sekretaris Direktorat Sarana Prasarana Universitas Padjadjaran (Unpad), dan PPK-nya bernama Rizal. (BRH / IIP)

Comments are closed.