Abah Landung: Pemuda-Pemudi Indonesia Zaman Sekarang Terpecah Belah

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Pelaku Sejarah Kemerdekaan Indonesia Abah Landoeng atau biasa disapa Abah Landung (93 Thn) menegaskan, saat ini di tahun 2018, para pemuda dan pemudi di Indonesia telah dipecah belah dengan kehadiran kelompok-kelompok dan partai-partai yang menjamur di Indonesia.

Hal ini ditegaskan Abah Landung di acara Makan Bersama Abah Landung meyambut Hari Sumpah Pemuda, Sabtu, (27/10/2018), di Warung Nasi Goreng jalan Mangga No.26 Bandung, turut hadir para mantan murid Abah Landung dan para Jurnalis kota Bandung.

“Saat ini pemuda zaman sekarang ingin terlihat saling menonjol, tidak mempersatukan diri, dan menonjolkan grupnya masing-masing,” kata Abah Landung saat diwawancara para awak media, “Persatuan saat ini terasa sangat kurang, dan persatuan hanya sebatas kata-kata, dan kenyataannya pemuda zaman sekarang saling menjatuhkan, menjelek-jelekan, dan menyebarkan hoax,” ungkap Abah Landung yang merupakan mantan guru SMPN 5 Bandung dan juga mantan guru Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Lebih lanjut Abah Landung yang pernah bersepeda dari Bandung ke kota Mekah selama 7 bulan mengatakan, di tahun 1945 semua pemuda pada waktu itu semua bersatu padu baik dari golongan agama, pedagang, bahkan orang Tionghoa.

“Saat ini para pemuda jauh lebih pintar, lebih segalanya, dan sekolahnya rata-rata tinggi, namun yang disayangkan barangkali pemuda zaman sekarang masih mengejar kepentingannya masing-masing, sehingga rasa persatuannya kurang,” kata Abah Landung, “Para pemuda zaman sekarang menganggap dirinya lebih pintar, dan yang kurang pintar menjauhi yang pintar karena merasa dirinya tidak diakui,” ungkapnya, “Apalagi dengan adanya pendidikan-pendidikan yang sangat berbeda dengan kultur Indonesia akan sedikit mengurangi rasa persatuan dan kesatuan pemuda Indonesia,” tegasnya.

Abah Landung menegaskan, pemuda dan pemudi zaman sekarang harus diberikan pendidikan kebangsaan, yaitu melalui pendidikan pembinaan karakter, dan budi pekerti yang luhur, “Orang-orang yang memiliki jabatan harus berani bertanggung jawab memberikan pendidikan kebangsaan kepada para pemuda,” tegasnya, “Mau tidak mau anak sekolah zaman sekarang harus diajarkan pendidikan kebangsaan, budi pekerti, dan pendidikan karakter,” ujarnya.

“Pemimpin sekarang harus bisa mengarahkan para pemuda dengan memberikan pendidikan kebangsaan, pendidikan karakter yang  baik, dan jujur, sehingga sifat-sifat yang tidak baik di dalam diri pemuda sedikit berkurang,” kata Abah Landung.

“Abah Landung berharap pemuda zaman sekarang bersatu padu untuk mengisi kemerdekaan agar anak cucu kita benar-benar merdeka, sejahtera,” kata Abah Landung, “Pemuda zaman sekarang jangan ‘Pakia-kia’ atau berbeda pendapat,” ujarnya.

Abah Landung mengungkapkan, karakter yang saat ini ada dalam diri pemuda adalah akibat pendidikan di waktu dulu, “Karena hasil pendidikan baru bisa dirasakan 15 hingga 20 tahun yang akan datang,” ungkapnya.

“Pada saat zaman Orde Baru pendidikan karakter diabaikan, saat itu yang dikejar hanya sistem ekonomi, namun saat itu ekonomi hanya berhasil bagi kelompok-kelompok tertentu,” ungkap Abah Landung.

“Kekayaan Indonesia banyak di korupsi oleh para koruptor karena mereka tidak memiliki mental yang kuat, bahkan saat ini sangat terasa koruptor semakin banyak karena para koruptor tidak memiliki dasar budi pekerti yang kuat,” kata Abah Landung.

“Sifat korup membutuhkan jangka waktu yang lama untuk dihilangkan, karena pada saat itu periode perpindahan orde lama ke orde baru begitu lama, dan pada akhirnya timbul sistem yang bersifat otoriter dalam hal mengambil kebijakan, padahal sistem ini tidak baik bagi demokrasi di Indonesia,” kata Abah Landung, “Demokrasi di Indonesia akan berjalan dengan baik apabila kesejahteraan rakyat Indonesia terpenuhi,” ujarnya.

“Satu, Kami Mengaku Bertanah Air Satu, Tanah Air Indonesia, Dua, Kami Mengaku Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia, Tiga, Kami Mengaku, Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia,” pungkas Abah Landung. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.