Dansektor 21 Satgas Citarum Kembali Sidak Tiga Pabrik di Wilayah Cimahi

ARCOM.CO.ID ,Cimahi. Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat dan jajaran Satgas Citarum Subsektor 21-13 Cimahi kembali melakukan sidak ke tiga pabrik di wilayah Cimahi, Senin, (5/11/2018), ketiga pabrik tersebut adalah, PT Trigunawan, PT Oriental Embroidery, dan PT Sama Indah.

PT Trigunawan

Pabrik pertama yang disidak oleh Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat dan jajaran Satgas Citarum Subsektor 21-13 adalah PT Trigunawan yang berlokasi di jalan Mahar Martanegara No.97B kota Cimahi.

Tujuan kedatangan Dansektor 21Satgas Citarum dan jajarannya ke PT Trigunawan adalah untuk membuka coran semen di saluran pembuangan limbah PT Trigunawan, seperti diketahui, PT Trigunawan saluran pembuangan limbahnya telah dicor hampir satu bulan lamanya pada 15 Oktober 2018 karena ketahuan membuang limbah kotor ke sungai.

Kedatangan Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat ke PT Trigunawan diterima secara langsung oleh Pemilik PT Trigunawan Andrew, “Hari ini Senin 5 November 2018 saya bersama jajaran Satgas Citarum Subsektor 21-13 Cimahi membuka coran semen di lubang saluran pembuangan limbah PT Trigunawan walaupun airnya masih sedikit berbau karena IPAL PT Trigunawan masih dalam tahap penyempurnaan,” ujarnya.

Lebih lanjut Yusep Sudrajat mengatakan pihaknya tidak akan bosan melakukan sidak ke pabrik-pabrik di wilayah Sektor 21, “Karena saya lihat masih banyak pabrik yang membuang limbah kotor ke sungai, dan di saat musim hujan sekarang ini masih banyak masyarakat yang membuang sampah ke sungai,” ungkapnya.

“Jajaran Satgas Citarum telah bekerja keras menjaga ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum hamper 8 bulan dari 7 tahun yang direncanakan, dan walaupun TNI bekerja menjaga DAS Citarum tanpa dukungan, kami akan jalan terus, namun saya lihat masyarakat mulai mendukung kerja TNI,” kata Yusep Sudrajat, “Lebih baik kami dalam menjaga sungai Citarum pulang nama daripada gagal di pertempuran,” tegasnya.

“Saya harap pemilik PT Trigunawan tidak lagi membuang limbah kotor ke sungai, karena setelah terus menerus dicor, bisa saja saya laporkan ke penegak hukum untuk diambil tindakan,” tegas Yusep Sudrajat, “Saya dalam waktu satu minggu akan kembali lagi ke PT Trigunawan untuk mengecek, dan saya harap PT Trigunawan nantinya membuat bak penampungan air limbah yang di dalamnya terdapat ikan mas dan koi,” pungkasnya.

Pemilik PT Trigunawan Andrew mengatakan, pihaknya setiap hari melakukan pencelupan kain sebanyak 20.000 yard dengan ongkos Rp.3.000 per yard, dan apabila saluran pembuangan limbahnya dicor akan menimbulkan kerugian.

“Saya mengakui air buangan limbah PT Trigunawan masih agak bau dikarenakan ada masalah dalam sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah yang kami miliki,” ungkap Andrew, “IPAL kami akan terus disempurnakan dan sedimentasi akan ditingkatkan, selain itu kami berjanji ke depan air limbah kami akan lebih bersih dan tidak berbau serta mendisiplinkan operator IPAL PT Trigunawan,” pungkasnya.

PT Oriental Embroidery

Seusai melakukan pembukaan cor di PT Trigunawan, rombongan Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat dan jajaran Satgas Citarum Subsektor 21-13 Cimahi bergerak menuju PT Oriental Embroidery yang berlokasi di jalan Leuwi Gajah No.92 Cimindi-Cimahi, rombongan diterima secara langsung oleh Human Resource Departement (HRD) PT Oriental Embroidery Deston Sianturi.

Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat bersama rombongan setelah menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya langsung menuju IPAL PT Oriental Embroidery yang terletak di belakang pabrik.

Di lokasi IPAL PT Oriental Embroidery, Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat mengatakan, kondisi IPAL PT Oriental Embroidery masih dalam tahap pembersihan dan pada saat kegiatan produksi berhenti, “Tetapi kita lihat bersama air limbah hasil pengolahan akhir di pabrik ini masih agak keruh,” ungkapnya.

“Kualitas air limbah di pabrik ini masih bisa ditingkatkan kejernihannya, sehingga saya sebagai Dansektor 21 yang menangani ekosistem di wilayah sektor 21 akan memberi waktu 7 hari kepada PT Oriental Embroidery untuk mengolah IPAL-nya dengan maksimal,” tegas Yusep Sudrajat, “Sehingga air limbah yang dibuang pabrik ini bening sesuai parameter Sektor 21, selain itu ikan mas dan koi bisa hidup di bak penampungan hasil akhir air limbah pabrik ini,” ujarnya.

“Karena jika air masih keruh dan dibuang ke sungai, kami yakin pasti ada endapan, selain itu lumpur yang mengendap masuk kategori B3,” kata Yusep Sudrajat, “Maka kami tekankan agar air limbah yang dibuang PT Oriental Embroidery bening agar tidak ada lumpur yang mengendap di dasar sungai,” ujarnya.

Lebih lanjut Yusep Sudrajat mengatakan, pada dasarnya PT Oriental Embroidery pernah dilaporkan oleh masyarakat terkait warna air limbah yang tidak baik, “Dulu saluran pembuangan limbah PT Oriental Embroidery di bawah permukaan air sungai, maka saya minta pemilik pabrik PT Oriental Embroideryuntuk menaikkan saluran pembuangan air limbahnya di atas permukaan sungai,” ungkapnya.

“Maka sekarang saya cek air limbah PT Oriental Embroidery berdasarkan laporan Satgas Citarum , dan ternyata air limbah pabrik ini masih agak keruh,” ungkap Yusep Sudrajat, “Saya kira air limbah pabrik ini adalah air sisa produksi, maka 7 hari lagi kami akan datang di saat pabrik ini sedang berproduksi,” pungkasnya.

Human Resource Departement (HRD) PT Oriental Embroidery Deston Sianturi mengatakan, sejak Maret 2018 setelah pihaknya melakukan pertemuan mengenai Sungai Citarum bersama pihak terkait, maka PT Oriental Embroidery segera memperbaiki dan memodifikasi IPAL pabriknya, “Hasilnya bisa dikatakan pabrik kami tidak pernah membuang limbah yang masih berwarna, bisa dibuktikan dengan contoh air limbah yang berada di ruang kantor IPAL kami,” ujarnya.

“Satgas Citarum memang pernah datang ke pabrik kami dan memonitor, tetapi mereka datang di saat pabrik kami tidak berproduksi dan ketika kami sedang membersihkan IPAL,” ungkapnya, “Air limbah yang ditemukan Satgas Citarum saat ini adalah sisa-sisa air produksi yang sudah diaduk-aduk,” ujarnya.

Deston Sianturi mengatakan pihaknya sudah berkomitmen tidak membuang air limbah berwarna ke sungai, “Pabrik kami terbuka apa adanya untuk dimonitor Satgas Citarum,” ujarnya, “Petugas pabrik kami setiap hari Senin pasti membersihkan IPAL untuk membuang lumpur yang menumpuk, karena tumpukan lumpur mempengaruhi kualitas air limbah yang dibuang,” ungkapnya, “Kami setiap hari mengolah air limbah sebanyak 110 m2 per hari, dan dikarenakan pabrik kami tidak ada printing, maka kualitas limbah pabrik kami termasuk kategori sedang,” pungkasnya.

PT Sama Indah

Seusai melakukan sidak ke PT Oriental Embroidery, rombongan Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat dan jajaran Satgas Citarum Subsektor 21-13 Cimahi bergerak menuju PT Sama Indah yang berlokasi di jalan Baros No.27  Cimahi, rombongan diterima secara langsung oleh Manajer PT Sama Indah Aria Sungkono.

Seusai menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan Satgas Citarum Sektor 21 ke PT Sama Indah, rombongan Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep langsung menuju IPAL PT Sama Indah yang bergerak di bidang pengolahan biang roti.

“Selama ini masyarakat sekitar hanya mengetahui PT Sama Indah adalah pabrik kecap, selain itu limbah makanan yang dikeluarkan PT Sama Indah cukup menyengat walaupun kandungan limbahnya tidak mengandung B3,” kata Yusep Sudrajat.

“Saya baru pertama kali mendatangi PT Sama Indah, kedatangan saya ke sini untuk mengecek karena berdasarkan laporan Satgas Citarum pabrik ini mengeluarkan limbah dalam keadaan bersih,” ujar Yusep Sudrajat.

Saat mengecek air limbah di IPAL PT Sama Indah, terlihat Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat cukup puas, karena hasil olahan limbah PT Sama Indah sudah jernih sesuai parameter Sektor 21, bahkan banyak ikan yang hidup di Outlet IPAL pabrik ini, sehingga air limbah sudah aman untuk dibuang ke sungai.

Manajer PT Sama Indah Aria Sungkono mengatakan, bahan biang roti yang digunakan pabriknya aman karena menggunakan tetes pohon tebu, “Limbah yang kami hasilkan adalah limbah organik, dan kami olah secara biologi, bahkan limbah yang kami hasilkan direkomendasikan untuk pupuk cair,” ungkapnya

Lebih lanjut Aria Sungkono ,mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih kepada rombongan Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat dan jajaran Satgas Citarum Subsektor 21-13 Cimahi karena sudah berkenan melakukan kroscek ke  IPAL PT Sama Indah.

Mengenai bau menyengat yang berasal dari bahan biang roti, Aria Sungkono mengatakan, bau bisa dinetralisir tetapi tidak bisa dihilangkan, “Sama saja dengan sulitnya menghilangkan bau durian,” ungkapnya, “Tetapi bau biang roti di pabrik kami bisa diminimalisir dengan cara baunya diikat oleh air,” ujarnya.

“Pastinya limbah yang kami olah sudah sesuai dengan SK Gubernur, walaupun pabrik kami pernah digerudug oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) karena disangka memproduksi minuman beralkohol akibat pabrik kami mengeluarkan bau ragi yang menyengat,” pungkas Aria Sungkono.

Di akhir pertemuan, PT Sama Indah diwakili Manajer PT Sama Indah Aria Sungkono disaksikan Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat  membuat Surat Pernyataan di atas materai yang isinya antara lain PT Sama Indah akan terus menjaga hasil olahan limbah yang dibuang ke aliran sungai dalam kondisi bersih. (BRH)

Comments are closed.