Indonesian Mining Association Gelar Mining for Life di Museum Geologi Bandung

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Untuk mensosialisasikan peran pertambangan dalam kehidupan dan lebih mendekatkan dunia pertambangan kepada masyarakat, Indonesian Mining Association (IMA) menggelar acara “Mining for Life”, Sabtu, (19/1/2019), di Museum Geologi jalan Diponegoro Bandung.

Ketua Indonesian Mining Association (IMA) ldo Hutabarat saat Media Briefing mengatakan, acara Mining for Life diadakan sebagai bentuk upaya dalam memberikan pemahaman yang Iebih komprehensif kepada publik tentang manfaat dari aktivitas pertambangan terhadap negara dan kehidupan masyarakat sehari-hari, “Kegiatan ini dihadiri sejumlah perusahaan tambang di Indonesia yang tergabung dalam Indonesian Mining Association,” ungkapnya.

Lebih lanjut ldo Hutabarat mengatakan, konsep dasar acara Mining for Life berangkat dari fakta bahwa Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam khususnya sektor pertambangan, “Begitu besarnya potensi sektor pertambangan di Indonesia, hingga sektor ini menjadi salah satu penyumbang utama dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di APBN kita,” tegasnya, “Acara Mining for Life menjadi salah satu sarana untuk mengapresasi kayanya kandungan tambang di Indonesia dan kemanfaatannya untuk kehidupan,” ujarnya.

“Acara yang kami gelar adalah sebagai bentuk kedekatan dunia pertambangan dengan keseharian kehidupan kita, dan diharapkan bisa memberikan gambaran positif mengenai pertambangan melalui peran dan praktik-praktik pertambangan yang benar dan berkelanjutan,” pungkas ldo Hutabarat.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sukmandaru, mengatakan, evolusi industri pertambangan membawa peradaban kehidupan manusia ke era sekarang dan revolusi industri 4.0, “Hampir seluruh aspek dalam kegiatan sehari-hari dipemudah dengan adanya elemen yang dihasilkan oleh tambang,” tegasnya, “Industri pertambangan juga mampu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat di sekitarnya secara signifikan, karena tingginya penyerapan sumber daya manusia dalam Industri tambang,” ungkapnya.

Sekretaris Jenderal Indonesian Mining Association (IMA)Tony Wenas mengatakan, selama ini banyak pihak yang menilai industri tambang sebagai kegiatan eksploitasi lingkungan semata, padahal kegiatan ekplorasi dan eksploitasi yang dilakukan selalu dilakukan bersamaan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan seperti reklamasi, serta mampu memberikan manfaat ekonomi langsung dari penjualan komoditas tambang, dan dapat memberikan manfaat utilitas produk dimana mineral tambang yang dihasilkan akan menjadi bahan dasar bagi pembuatan berbagai produk yang digunakan bagi kehidupan masyarakat sehari-hari.

“Masyarakat juga perlu mengetahui secara berimbang bahwa untuk dapat melakukan aktivitas pertambangan, perusahaan wajib tunduk pada rangkaian prosedur pertambangan berkelanjutan yang diawasi dengan ketat oleh pemerintah,” ungkap Tony Wenas, “Prosedur tersebut juga disusun serta diterapkan sesuai dengan standar internasional yang berlaku di seluruh dunia,” tegasnya.

“Seperti diketahui di Indonesia berbagai perusahaan tambang yang justru memiliki komitmen tinggi atas penjagaan kelestarian lingkungan sekitarnya belum banyak dikenal dan dipahami masyarakat secara luas,” ungkap Tony Wenas, “Publik lebih familiar dengan beberapa aktivitas pertambangan yang dikelola secara tidak bertanggung jawab, padahal contoh aktivitas pertambangan yang bertanggung jawab cukup banyak,” pungkasnya.

Plh Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA) Djoko Widajatno mengatakan, industri tambang di Indonesia memberikan kontribusi yang sangat besar, “Memang orang tambang dibenci namun juga dicintai, karena pertambangan merupakan pionir kebudayaan,” ungkapnya, “Setiap teknologi ada dampak lingkungan dan resiko bagi manusia,” ujarnya.

Lebih lanjut Djoko Widajatno mengungkapkan, orang-orang tambang dididik bahwa kita yang hidup dari sumber daya ini sudah berhutang kepada generasi yang akan datang, maka kita wajib mencicil hutang-hutang kita selagi kita hidup, “Orang tambang itu tugasnya menjaga lingkungan dari segi teknis dan ekonomis, sehingga terjadi kesinambungan pembangunan,” tegasnya.

“Kita harus tetap dekat dengan tambang, misalkan sekarang tambang ditutup, lalu masyarakat protes ramai-ramai sehingga tambang batu bara tidak berproduksi, tetapi kita harus ingat, memangnya ketika tambang ditutup akan ada listrik, dan ada handphone, karena provider-provider yang ada di Indonesia harus pakai listrik,” ungkap Djoko Widajatno, “Lalu ada wacana memakai energi terbarukan, namun kita tahu bahan energi terbarukan dari tambang juga,” tegasnya, “Jadi tambang saling terkait di setiap kehidupan, sehingga ketahanan suatu bangsa tergantung dari sumber daya alam,” ujarnya.

“Kekayaan sumber daya alam kita diibaratkan sebagai kapal VOC yang mengangkut emas berlian rampokan dari Indonesia dan kandas di laut dalam dan tidak bisa diambil karena kedalamannya 3.000 meter, maka emas berlian tersebut harus diambil dengan berbagai teknologi dan berbagai usaha supaya dapat bermanfaat bagi rakyat Indonesia,” ungkap Djoko Widajatno, “Bila kita diamkan, maka sumber daya alam tidak ada manfaatnya, contoh bila kita hidup di hutan yang hijau tetapi barang tambang di dalam tanah tidak bisa kita ambil, maka tidak ada manfaatnya bagi kehidupan,” tegasnya.

Djoko Widajatno mengatakan, dirinya prihatin saat ini banyak pembiaran-pembiaran yang dilakukan, “Saat ini banyak tambang ilegal, dan Freeport diserang, namun mudah-mudahan dengan semangat kita tidak melakukan pembiaran, di masa depan produksi tambang mempunyai kemanfaatan bagi kesejahteraaan manusia dan terjadi keberlanjutan bagi kehidupan,” tegasnya.

“Saat ini batu bara dan emas masih dibutuhkan oleh dunia, namun masih banyak tambang batu bara dan emas ilegal di Indonesia, maka perlu pengawasan oleh Media, karena masih banyak tambang ilegal yang menggunakan bahan-bahan berbahaya seperti mercuri, maka kita dari Asosiasi melakukan pendekatan-pendekatan kepada penyidik pegawai negeri sipil untuk menertibkan hal ini,” tegasnya.

Djoko Widajatno mengungkapkan, di Indonesia saat ini terdapat 6.350 izin usaha pertambangan, dan yang beroperasi sekitar 3.000, “Namun inspektur tambang baru berjumlah 900, jadi untuk memeriksa 3.000 izin usaha tambang perbandingannya 1 banding 3, maka pengawasannya saat ini semakin berkurang,” ungkapnya.

“Selain itu kita prihatin ESDM dipotong anggarannya sebesar Rp 9 triliun, maka kami dari Asosiasi berusaha membantu menyelenggarakan pendidikan bagi masyarakat dalam rangka mengawasi kekayaan alam Indonesia,” pungkas Djoko Widajatno.

Ketua Komite Public Relations Indonesian Mining Association (IMA) Anita Avianty mengatakan, tujuan IMA mengadakan acara Mining for Life adalah untuk memberikan pemahaman tentang manfaat tambang pada kehidupan sehari-hari melalui pendekatan populer, sehingga akan mudah dipahami oleh masyarakat termasuk juga generasi millenial.

“Kami juga menyediakan sejumlah peraga terkait industri pertambangan yang dipamerkan secara menarik dan dikemas secara interaktif untuk membangun pemahaman yang lebih baik tentang dunia tambang,” kata Anita Avianty, “Harapannya masyarakat menjadi lebih teredukasi atas manfaat dan hal-hal positif terkait tambang, serta tidak melulu terpapar sisi negatif yang tidak tersajikan secara berimbang,” pungkasnya.

Seperti diketahui, sektor pertambangan di Indonesia memberikan banyak sekali manfaat, baik untuk kepentingan negara ataupun masyarakat, berdasarkan data Kementerian Keuangan, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) atas sektor mineral dan batu bara pada Desember 2018 mencapai Rp. 46,6 triliun.

Selain itu, manfaat tambang dalam kehidupan sehari-hari juga dapat diamati secara mudah, seperti pada produk mineral tembaga yang dimanfaatkan sebagai bahan dasar terbaik penghantar listrik (konduktor), produk batu bara yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit Iistrik, aluminium untuk industri packaging, besi dan baja untuk industri infrastruktur, nikel yang dimanfaatkan sebagai bahan baterai isi ulang, termasuk juga emas dan perak, hingga minyak bumi yang merupakan bahan utama penghasil bahan bakar premium, minyak tanah juga aspal sebagai produk turunannya. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.