Survey Cakrawala Indonesia: Elektabilitas Jokowi 30,17 Persen, Prabowo 23 Persen

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Cakrawala Indonesia telah melaksanakan Survey terkait Elektabilitas Calon Presiden RI Periode 2019-2024, hasilnya pasangan Capres Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin memperoleh 30,17 % suara, dan pasangan Capres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memperoleh 23 % suara.

Peneliti Cakrawala Indonesia Nugroho Adinegoro saat Press Conference Release Survey Dapil Jabar 1 dan Diskusi Perilaku Golput dalam Dinamika Demokrasi, Jumat, (5/4/2019), di Gedung Unpad Training Center (UTC) jalan Ir.H.Juanda (Dago) Bandung, mengatakan, berdasarkan survey Cakrawala Indonesia, ketika responden ditanya jika Pemilu dilaksanakan hari ini, maka pasangan Capres Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin unggul atas pasangan Capres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, namun suara tertinggi masih berada di masyarakat yang berstatus Undecided Voters.

“Preferensi cukup konsisten di mana partai pendukung Jokowi-Amin menjadi penyumbang suara terbanyak bagi pasangan Capres-Cawapres ini, pengecualian terdapat pada suara pemilih Demokrat yang juga memilih Jokowi-Amin, terdapat pula pemilih partai PKS dan PAN walaupun tidak signifikan,” kata Nugroho Adinegoro.

“Sedangkan preferensi partai bagi para pemilih Prabowo-Sandi cukup konsisten, dimana partai pendukung Prabowo-Sandi menjadi penyumbang suara terbanyak, yang menarik adanya pemilih partai Golkar yang memilih Prabowo-Sandi,” ungkap Nugroho Adinegoro, “Pemilih Prabowo-Sandi dari Nasdem dan Perindo juga ada walaupun tidak signifikan,” ujarnya.

Lebih lanjut Nugroho Adinegoro mengatakan, kedua Capres memiliki pemilih loyal dengan jumlah cukup besar dari Pemilu 2014, “Jokowi-Amin berhasil meraih 10 persen konstituennya dari pemilih Prabowo-Hatta di 2014, sedangkan ada 22 persen pemilih Jokowi-JK yang beralih kepada Prabowo-Sandi,” ungkapnya.

Di akhir paparannya, Nugroho Adinegoro mengungkapkan, pemilih millennial lebih memilih pasangan Capres-Cawapres Jokowi-Amin dibanding dengan memilih Prabowo-Sandi, namun masih dalam selisih yang tipis, “Mereka yang belum menentukan pilihannya masih tinggi, yaitu di angka 42 persen,” pungkasnya.

Akademisi Ilmu Politik FISIP Universitas Padjadjaran Dr. Yusa Djuyandi, S.IP, M.Si., mengatakan, masa mengambang di Pilpres 2019 masih cukup besar, “Bisa jadi akan ada salip menyalip suara,” ujarnya.

Lebih lanjut Yusa Djuyandi mengatakan, Undecided Voters di kota Bandung dan Cimahi muncul karena jumlah pemilih intelektualnya masih tinggi, “Mereka akan melihat program kerja apa yang akan ditawarkan, dan blunder politik yang mungkin dilakukan pasangan Capres dan Cawapres,” ujarnya.

“Blunder politik yang bisa dilakukan pasangan Capres dan Cawapres biasanya dari statement, dan kasus korupsi yang dilakukan tokoh politik Partai Pendukung Capres,” ungkap Yusa Djuyandi, “Kita ketahui tokoh politik dari PPP dan Golkar tersangkut kasus korupsi menjelang Pilpres 2019, tentu saja kejadian ini akan mempengaruhi elektabilitas partai dan membuat perolehan suara terjun bebas,” tegasnya.

Di akhir paparannya, Yusa Djuyandi mengatakan, Hoax hanya mempengaruhi Pileg dan Pilpres 2019 sebesar 5 persen, “Hoax tentang PKI saat ini sudah usang, dan yang mempengaruhi adalah kebijakan Capres dan Cawapres itu sendiri,” pungkasnya.

Cakrawala Indonesia melaksanakan survey di daerah pemilihan Jawa Barat I yang meliputi kota Bandung dan kota Cimahi pada rentang Februari-Maret 2019, wawancara diambil menggunakan metode Multistage Random Sampling, dengan alat bantu kuesioner.

Seperti diketahui, orang yang tercantum di DPT kota Bandung sebanyak 2.034.430 orang, dan DPT Cimahi sebanyak 364.414 orang, jumlah sampling adalah 600 responden, seluruh Kecamatan disurvey dan pengacakan dilakukan di level Kelurahan dan RW, Margin of  Error berada di angka 4 % pada tingkat kepercayaan 95 %. (BRH)

Comments are closed.