Dansektor 21 Gelar Sosialisasi Citarum Harum di Madrasah Aliyah Al Huda

ARCOM.CO.ID ,Kabupaten Bandung. Komandan Sektor (Dansektor) 21 Satgas Citarum Harum Kol. Inf Yusep Sudrajat menggelar sosialisasi program Citarum Harum di Madrasah Aliyah (MA) Al Huda Pameungpeuk Kabupaten Bandung, Senin, (24/6/2019), turut hadir Ketua Yayasan Al Huda Abdul Madjid.

Dansektor 21 dihadapan 100 siswa dan siswi MA Al Huda mengatakan, saat ini di hulu sungai Citarum banyak hutan yang dijadikan kebun, “Luas hutan tersisa 8,9 persen dan sekitar 80.000 ha lahan dalam kondisi kritis dan sangat kritis,” ungkapnya, “Beberapa permasalahan sungai Citarum diantaranya, lahan kritis, erosi, dan sedimentasi,” ujarnya.

Lebih lanjut Dansektor 21 mengatakan, di tahun 2009 di sekitar sungai Citarum terdapat 300-an mata air, “Saat ini tinggal 114 mata air,” ungkapnya, “Maka dibutuhkan 125 juta pohon, yang terdiri dari 100 juta tanaman perdu dan 25 juta tanaman keras, untuk itu dibutuhkan tiga hingga empat triliun rupiah untuk membeli bibit pohon,” ungkapnya, “Hingga saat ini baru ditanam enam juta pohon, dua juta pohon ditanam, dan empat juta pohon disemai, dan itu baru swadaya, karena dari pemerintah belum diturunkan dana untuk penanaman pohon,” ujarnya.

Terkait permasalahan sampah, Dansektor 21 mengatakan, pihaknya memiliki data bahwa per Januari 2019 sekitar 20.462 ton sampah per hari dibuang ke sungai Citarum, “Sebanyak tujuh puluh satu persen sampah yang diantaranya terdiri dari limbah medis, kantong darah, potongan tubuh manusia, dan alat medis bekas tidak terangkut,” tegasnya.

“Dampak dari sampah yang dibuang ke sungai Citarum adalah terjadinya masalah air bersih, ikan yang tercemar, penyakit kulit dan autis, serta kanker,” ungkap Dansektor 21, “Maka solusi penanganan sampah dari Satgas Citarum Harum Sektor 21 adalah, Satgas ditugaskan setiap hari bertemu warga berlainan untuk mensosialisasikan program Citarum Harum,” ujarnya.

“Sedangkan upaya penanganan sampah yang dilakukan Satgas Citarum Harum Sektor 21 diantaranya melakukan pengerukan sampah dan pemasangan jaring sampah swadaya di sungai Citarum,” ungkap Dansektor 21, “Saat ini banyak masyarakat yang sudah sadar untuk tidak membuang sampah ke sungai Citarum, karena hukuman membuang sampah adalah di viralkan dan melaksanakan kerja bakti selama dua minggu,” ujarnya.

Mengenai pembuatan bak sampah, Dansektor 21 mengungkapkan, seharusnya setiap RT dan RW membuat bak sampah swadaya, “Karena apabila ada lahan kosong, pasti nantinya akan menjadi tumpukan sampah yang dibuang oleh masyarakat,” ujarnya.

Terkait permasalahan limbah kotoran manusia dan hewan di sungai Citarum, Dansektor 21 mengungkapkan, sebanyak 35,5 ton per hari tinja manusia dibuang ke sungai Citarum, sedangkan kotoran hewan sebanyak 56 ton per hari, “Maka solusi dari Satgas Citarum Sektor 21 adalah harus dibuat WC perorangan sebanyak 25.500 unit, dan pembangunan septic tank serta WC Komunal, “ ujarnya, “Karena sungai adalah serambi depan rumah kita,” tegasnya.

Sedangkan terkait permasalahan limbah industri, Dansektor 21 mengungkapkan, di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum terdapat 1.900 industri penghasil limbah, “Bahkan 90 persen Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) industri tersebut belum sesuai,” tegasnya, “Ditambah sebanyak 340.000 ton limbah cair di buang ke sungai Citarum setiap harinya,” ungkapnya, “Maka bila ada pabrik yang membuang limbah kotor, segera divideokan oleh masyarakat, karena limbah industri merupakan pembunuh senyap,” tegasnya.

“Maka Satgas Citarum Harum Sektor 21 mensyaratkan hasil akhir limbah industri airnya harus sebening air mineral, dan terdapat ikan koi hidup di bak penampungan akhir,” tegasnya, “Apabila masih ada pabrik yang bandel membuang limbah kotor ke sungai Citarum, maka Satgas Citarum Harum Sektor 21 akan melakukan pengecoran saluran limbah pabrik tersebut, contohnya kami pernah mengecor saluran limbah PT Kahatex di Rancaekek selama dua minggu, dan total kami telah mengecor sekitar 80 pabrik,” tegasnya, “Hal ini harus dilakukan karena pabrik-pabrik selama 30 tahun telah berpesta membuang limbah ke sungai Citarum,” ujarnya.

“Saya melakukan upaya-upaya ini karena sebagai tentara saya harus punya integritas, apalagi sekitar tiga hingga empat tahun lagi saya pensiun, maka saya harus berbuat untuk masyarakat, salah satunya melalui program Citarum Harum,” kata Dansektor 21.

Terkait permasalahan Keramba Jaring Apung (KJA), Dansektor 21 mengungkapkan, di Waduk Cirata terdapat 98.387 Keramba Jaring Apung, di Waduk saguling 35.482 KJA, dan di Waduk Jatiluhur 31.731 KJA, “Hal ini melebihi kemampuan Waduk, dan kami sudah menginformasikan agar Keramba Jaring Apung dikurangi,” ungkapnya.

Seusai Dansektor 21 melaksanakan sosialisasi Program Citarum Harum, kepada para awak Media Dansektor 21 mengatakan, Sektor 21 secara gencar dan terus menerus akan melakukan sosialisasi Citarum Harum, “Masyarakat Bandung Raya cukup padat bahkan hampir jutaan orang, maka tidak mungkin dalam waktu dekat semua informasi tentang Citarum Harum sampai ke masyarakat, oleh karena itu Sektor 21 melakukan sosialisasi kepada anak-anak setingkat SMA salah satunya ke MA Al Huda, agar nantinya siswa semenjak dini sadar lingkungan dan sadar kebersihan,” ujarnya.

Lebih lanjut Dansektor 21 mengungkapkan, sosialisasi Program Citarum Harum mendapat respon yang sangat baik dan antusias dari siswa-siswi MA Al Huda, “Walaupun waktunya tidak lama karena siswa akan dibagi raport, namun mereka sangat memperhatikan dan mendengar materi-materi Citarum Harum, antusias mereka terlihat dari wajah para siswa yang mengajukan pertanyaan –pertanyaan,” ujarnya.

“Saat sosialisasi ada masukan dari siswa yang ingin melihat hulu Citarum di Cisanti, nanti akan kita upayakan dan kondisikan , semoga dalam waktu dekat para siswa bisa mengunjungi Cisanti,” kata Dansektor 21.

Di akhir wawancara Dansektor 21 mengatakan, setiap satu bulan sektor-sektor di Citarum mendapat dana untuk sosialisasi program Citarum Harum sebanyak dua kali, yaitu sosialisasi untuk masyarakat dan untuk ke sekolah, “Sosialisasi ini akan berlanjut hingga akhir tahun 2019, perlu diingatkan, Satgas Citarum sifatnya hanya mendorong, namun jika ada pendampingan dari Pemda terkait sosialisasi itu akan sangat bagus,” pungkasnya.

Ketua Yayasan Al Huda Abdul Madjid mengatakan, sejak dulu ekstra kurikuler MA Al Huda berorientasi kepada kemanusiaan , “Para siswa sudah terbiasa bekerja sama dengan berbagai organisasi kemanusiaan bahkan dengan BNPB,” ungkapnya.

“Terkait Citarum saat ini kami tengah merumuskan satu program bagaimana siswa MA Al Huda bisa menjaga sungai Citarum paling tidak sepanjang satu kilometer, jadi nantinya para siswa dengan menggunakan perahu menyusuri sungai Citarum sambil membersihkan sampah,” ujar Abdul Madjid.

“Setiap siswa yang ikut menjadi relawan mempunya nilai tersendiri, dan mereka biasanya semakin dekat dengan orang-orang dari organisasi kemanusiaan,  pada akhirnya banyak siswa yang timbul jiwa sosialnya, dan hal ini akan kami pupuk terus,” pungkas Abdul Madjid. (BRH)

Comments are closed.