Ada Kejadian Lucu Saat  Dansektor 21 Sidak PT Dam Sinar Button Factory

ARCOM.CO.ID ,Cimahi. Komandan Sektor (Dansektor) 21 Satgas Citarum Harum Kol. Inf Yusep Sudrajat kembali melaksanakan rutinitasnya dengan melakukan Sidak ke pabrik asesoris garmen PT Dam Sinar Button Factory, Rabu, (31/7/2019), di jalan Cibaligo Cimahi.

Sidak Dansektor 21 ke PT Dam Sinar Button Factory diwarnai  kejadian lucu saat pihak pabrik bersikeras di bak indiktor terdapat ikan mas dan ikan koi,  “Mana ini ikannya tidak terlihat, jangan-jangan ini ikan siluman yang bisa lihat hanya pihak pabrik saja,” ujar Dansektor 21.

Akhirnya Dansektor 21 meminta pihak pabrik membeli ikan koi dan ikan mas ke pasar untuk dimasukkan ke bak indikator PT Dam Sinar Button Factory untuk dilihat apakah nanti ikan tersebut dapat tahan dengan air limbah pabrik yang sudah diolah.

Setelah menunggu cukup lama akhirnya pihak pabrik membawa ikan koi dan ikan mas untuk dimasukkan ke outlet, setelah ditunggu beberapa menit ternyata ikan hidup yang menandakan air limbah akhir PT Dam Sinar Button Factory tidak berbahaya dan aman dibuang ke sungai.

Saat sidak, Dansektor 21 diterima Direktur PT Dam Sinar Button Factory William, sebelum melakukan pengecekan ke IPAL, Dansektor 21 seperti biasa memperkenalkan diri dan menjelaskan secara singkat program Citarum Harum dan standar yang diterapkan Satgas Sektor 21 terkait limbah industri.

Dansektor 21 mendapat penjelasan dari Staf Manajemen PT Dam Sinar Button Factory yang bernama Isomba Tota terkait operasional IPAL yang sudah menggunakan sistem sensor untuk mengetahui tingkat pH air limbah.

Setelah mendapat penjelasan dan melihat langsung IPAL PT Dam Sinar Button Factory, Dansektor 21 cukup puas dengan warna air hasil olahan limbah yang sudah bening, ditambah ikan sanggup hidup di bak indikator.

Saat diwawancara para awak Media, Dansektor 21 mengungkapkan, lahan limbah PT Dam Sinar Button Factory bisa dibilang kecil, “Per hari limbah yang diolah pabrik ini antara 10 hingga 20 meter kubik, itupun jika ada pesanan yang banyak, normalnya kurang lebih 5 meter kubik per hari,” ujarnya.

Lebih lanjut Dansektor mengatakan, sekecil apapun air limbah yang dibuang pabrik ini ke sungai, tetap saja jika tidak diolah dengan baik akan mencemari dan merusak ekosistem DAS Citarum, karena produksi dan pengolahannya menggunakan zat-zat kimia.

“Tadi kita sudah lihat IPAL pabrik ini dan hasilnya air limbah akhir sudah bening, ikan koi juga bisa hidup di bak indikator, artinya limbah sudah dikelola dengan baik dan tidak membahayakan ekosistem DAS Citarum,” ujarnya

“Ini sejalan dengan Perpres No 15 tahun 2018, yang menyatakan tidak boleh ada pencemaran yang dibuat oleh pabrik atau perusahaan yang membuang limbahnya ke DAS Citarum tanpa diolah dengan baik,” tegasnya.

Dansektor 21 berpesan pada pihak pabrik untuk menjaga kualitas hasil olahan limbahnya, “Tolong kondisi ini dijaga jangan sampai nantinya berbeda lagi, dan ikan harus tetap hidup di bak indikator,” pungkasnya.

Staf Manajemen PT Dam Sinar Button Factory Isomba Tota menjelaskan, per hari sekitar 5 meter kubik limbah yang diolah pabrik tempatnya bekerja.

“Mungkin olahan limbah kami bisa dibilang sedikit, namun karena limbahnya berbahaya, kami berkomitmen untuk mengolahnya secara sempurna, dan tentunya akan kami perbaiki lagi jika ada kekurangan,” kata Isomba Tota.

“IPAL kami sudah ada sejak tahun 2004, dan sering dijadikan contoh oleh pihak Universitas dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi,” ungkap Isomba Tota, “Pastinya kami sangat mendukung program Citarum Harum,” pungkasnya.

Sidak Dansektor 21 diakhiri dengan pembuatan surat pernyataan komitmen dari pihak perusahaan yang akan selalu menjaga kualitas hasil olahan limbah pabrik dengan kondisi baik. (BRH / ST)

Comments are closed.