Utama Gelar Kuliah Umum Hoax, Media Sosial, dan Perempuan dalam Revolusi Industri 4.0

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Prodi Manajemen S1 Universitas Widyatama (Utama) menggelar Kuliah Umum bertajuk, Hoax, Media Sosial, dan Perempuan dalam Revolusi Industri 4.0, Senin, (30/9/2019), di GSS Universitas Widyatama jalan Cikutra Bandung.

Hadir sebagai pembicara, Ketua PKK Provinsi Jawa Barat Atalia Praratya M.Ikom., dan Humas Provinsi Jawa Barat Herni Herdiani, ST.,M.Si. sedangkan Rektor Universitas Widyatama Prof.Dr.H.Obsatar Sinaga S.IP.,M.Si berkesempatan membuka Kuliah Umum ini.

Ketua PKK Provinsi Jawa Barat Atalia Praratya yang merupakan isteri Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dalam kuliah umum ini membahas tentang kehadiran internet di tengah revolusi industri dan new media vs media konvensional, “Saat ini new media mengatasi keterbatasan yang dimiliki oleh media konvensional” tegasnya, “Sebanyak 64,8 persen dari 171 penduduk Indonesia merupakan pengguna internet,” ungkapnya.

Lebih lanjut Atalia Praratya menegaskan tantangan para pengguna internet saat ini adalah memilah berita, “Sepanjang April 2018 hingga Juni 2019 terdapat 1731 konten hoax yang bertebaran di dunia maya,” ungkapnya, “Hoax yang paling sederhana yakni minum air dingin dapat menyebabkan kanker dan makan jengkol baik untuk mengecek kesehatan,” ujarnya, “Namun hoax yang paling banyak ada di konten sosial politik, maka Jawa Barat akhirnya membuat Jabar Saber Hoaks” ungkapnya.

“Pastinya Hoax dapat mengancam persatuan bangsa, membuat satu sama lain bertengkar, memutuskan silaturahmi bahkan saling membunuh,” tegas Atalia Praratya, “Bahkan rusuh di Wamena Papua dikarenakan Hoax yang mengakibatkan kantor dan ruko dibakar sehingga ribuan orang mengungsi,” ujarnya.

Lebih lanjut Atalia Praratya mengatakan, dirinya akan mengkaji anggapan perempuan lebih rentan terpapar hoaks, “Hal ini harus dikaji lebih lanjut,” ujarnya.
Di akhir paparannya Atalia Praratya menegaskan, masyarakat yang menyebarkan berita bohong bisa didenda hingga satu miliar rupiah, “Maka bila kita mendapatkan suatu berita, sebaiknya cek ricek terlebih dahulu untuk mengetahui benar atau tidaknya berita tersebut,” pungkasnya.

Rektor Universitas Widyatama Obsatar Sinaga ditemui para awak media seusai kuliah umum mengatakan, bila kita mendapatkan suatu berita sebaiknya tabbayun dan tidak langsung menyebarluaskan melalui media sosial.

Mengenai UU ITE, Obsatar Sinaga menganggap undang-undang cukup bagus namun perlu direvisi, “Sebagai contoh tuntutan hukuman di bawah 5 tahun mengakibatkan orang tidak bisa ditahan, hanya diperiksa saja dan ditahan apabila sudah terbukti,” ungkapnya, “Bila tidak ditahan masyarakat menganggap orang tersebut tidak bersalah, dan bisa saja orang tersebut kembali menyebarkan berita Hoax,” pungkasnya. (BRH)

Comments are closed.