Healthy Lung Campaign AstraZeneca Sambangi Puskesmas Pasirkaliki Bandung

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Pasirkaliki ternyata ikut berperan penting dalam pengobatan asma bagi masyarakat kota Bandung dan sekitarnya.

Hal ini terungkap saat para awak media bersama AstraZeneca melakukan kunjungan “Healthy Lung Campaign” ke UPT Puskesmas Pasirkaliki Bandung, Selasa, (15/10/2019).

Hadir dalam kegiatan “Healthy Lung Campaign”, Direktur MAGARA AstraZeneca Indonesia Rizman Abudaeri, Kepala UPT Puskesmas Pasirkaliki dr. Deborah Johana Rattu, M.H.Kes, Dokter Pelaksana / Penanggung Jawab Program Penyakit Tidak Menular dr. Fithri Ratnasari, Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Kota Bandung dr. Intan Annisa Fatmawaty, dan Country Representative Project HOPE Indonesia Agus Soetianto, MIPH, MHM.

Direktur MAGARA AstraZeneca Indonesia Rizman Abudaeri saat sesi Press Conference mengatakan, jika asma dapat ditangani di Puskesmas maka akan meningkatkan kontrol penyakit dan mengurangi beban ekonomi.

‚Äč”Saat ini prevalensi asma terus meningkat di Indonesia dikarenakan perubahan gaya hidup dan meningkatnya polusi udara, namun di Indonesia masih terdapat kesenjangan dalam mengobati asma,” ungkap Rizman Abudaeri.

“Oleh karena itu peran Puskesmas sebagai pusat kesehatan primer dalam merawat pasien asma menjadi sangat penting, hal tersebut dikarenakan Puskesmas merupakan pintu gerbang untuk pendaftaran Jaminan Kesehatan Nasional dan merupakan fasilitas kesehatan tingkat pertama yang akan dikunjungi pasien ketika mereka sakit,” tegas Rizman Abudaeri.

“Melihat tantangan penanganan asma di Puskesmas, maka AstraZeneca bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Project Hope, dan Universitas Gadjah Mada telah mengidentifikasi lima kesenjangan multidimensi dalam pengobatan asma di Puskesmas,” ungkap Rizman Abudaeri.

“Program intervensi untuk mengatasi kesenjangan tersebut selain dilaksanakan di Puskesmas kota Bandung juga telah dilakukan di Puskesmas Bantul, dan Banjar” ungkap Rizman Abudaeri, “Program intervensi telah menghasilkan hasil positif hingga saat ini, dan menunjukkan jika asma dapat ditangani di tingkat Puskesmas, maka penyakit ini dapat dikendalikan, dan beban ekonomi dapat dikurangi,” ujarnya.

Lebih lanjut Rizman Abudaeri mengatakan, sebagai bagian dari rangkaian program Healthy Lung, AstraZeneca telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Project HOPE untuk melakukan serangkaian kegiatan intervensi dalam mengatasi kesenjangan dalam penelitian formatif guna mendorong hasil yang lebih baik bagi pasien asma, “Dengan perbaikan pelayanan asma di Puskesmas, maka biaya layanan akan semakin efisien,” pungkasnya.

Kepala UPT Puskesmas Pasirkaliki dr. Deborah Johana Rattu, M.H.Kes, mengatakan, saat ini pengobatan asma bisa didapatkan di Puskesmas-Puskesmas yang ada di kota Bandung termasuk Puskesmas Pasirkaliki.

“Pelayanan pengobatan asma di Puskesmas untuk memotong jalur pasien agar tidak bolak-balik ke Rumah Sakit,” tegas dr. Deborah Johana Rattu, “Nantinya pasien asma tiga bulan sekali dirujuk ke Rumah Sakit, dan kembali ke Puskesmas untuk mengambil obat asma,” ujarnya.

Lebih lanjut dr. Deborah Johana Rattu menyambut baik program “”Healthy Lung Campaign”, yang dilakukan AstraZeneca, “Dengan program ini maka alat untuk para penderita asma yakni nebulizer dapat dipakai kapan saja oleh pasien asma ketika datang ke Puskesmas,” pungkasnya.

Seperti diketahui, sebanyak 20 Puskesmas di kota Bandung sudah dapat melayani para penderita asma, Puskesmas tersebut yaitu, Puskesmas Pasirkaliki, Taman Sari, Puter, Pasirlayung, Ibrahim Adjie, Babakan Sari, Cijagra Lama, Ujungberung Indah, Panghegar, Cipamokolan, Cempaka Arum, Sarijadi, Karang Setra, Sukajadi, Garuda, Pagarsih, Citarip, Caringin, Kopo, dan Puskesmas Cimbeuleuit.

Country Representative Project HOPE Indonesia Agus Soetianto mengungkapkan, hasil dari program “Healthy Lung Campaign” diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi pemerintah untuk menyediakan solusi bagi pengobatan asma di Puskesmas-Puskesmas yang ada di Indonesia.

“Project HOPE akan mengembangkan suatu Project Learning sebagai hasil dari program intevensi, Project Learning akan mencakup tujuan intervensi yaitu untuk meningkatkan status kendali asma di tingkat Puskesmas yang bertujuan untuk mengurangi angka rujukan pasien ke rumah sakit,” kata Agus Soetianto.

“Sebagai langkah selanjutnya, kami akan terus melibatkan Kementerian Kesehatan, AstraZeneca, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengidentifikasi kebutuhan akan pengembangan program ini ke kota dan kabupaten lain,” pungkas Agus Soetianto.

Seperti diketahui, pada tahun 2019 fase intervensi dimulai untuk mengatasi kesenjangan multidimensi di pusat kesehatan primer / Puskesmas, dan telah diselenggarakan di 71 Puskesmas di tiga kota, tercatat sebanyak 4,5% dari populasi di Indonesia menderita penyakit asma dengan jumlah kumulatif kasus asma sekitar 11.179.032 penderita.

Sedangkan Survei Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan pada tahun 2015 mencatat, penyakit paru-paru kronis adalah salah satu dari 10 penyebab kematian terbesar di Indonesia.

Diperkirakan Penyakit Tidak Menular (PTM) termasuk di dalamnya penyakit asma berkontribusi dalam beban ekonomi pada anggaran BPJS Kesehatan, dimana hal tersebut akan menjadi salah satu faktor yang memicu defisit BPJS sebesar Rp 28,5 triliun pada akhir tahun 2019.

Maka penguatan peran Puskesmas dalam manajemen Asma diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi biaya dan meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Hingga saat ini program intervensi meningkatkan pengetahuan lebih dari 500 tenaga kesehatan yang telah menjalani pelatihan klinis dan lebih dari 4.000 pasien dilatih untuk taat terhadap tata laksana pengobatan.

Namun sebanyak 90% pasien asma masih tidak terkontrol dan terkontrol sebagian dengan hanya sekitar 10% yang terkontrol sempurna.

Program intervensi juga menemukan sebagian besar pasien asma yang datang ke Puskesmas berada dalam usia produktif dengan 20% usia sekolah (6-19 tahun), dan 46% pada usia kerja (20-55 tahun), Kota Bandung sendiri menempati urutan ketiga dengan jumlah pasien asma tertinggi di Indonesia. (BRH)

Comments are closed.