Dansektor 21 Hadiri Diseminasi Teknologi Pengelolaan Limbah Industri Tekstil yang Digelar BBTPPI Kemenperin

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Komandan Sektor (Dansektor) 21 Satgas Citarum Harum Kol. Inf Yusep Sudrajat berkesempatan menghadiri Diseminasi teknologi pengelolaan limbah industri tekstil yang digelar Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI) Semarang, Rabu, (11/12/2019), di Hotel Aston Pasteur jalan Dr Djunjunan Bandung.

Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI) Semarang sendiri merupakan instansi teknis di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang mempunyai tupoksi penelitian dan pengembangan dengan visi menjadi pusat unggulan untuk litbang teknologi dan layanan teknis di bidang industri hijau.

Hadir dalam forum ini, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat Eva Pandora, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi M.Roni, Kepala Bidang Pengembangan Jasa Teknis BBTPPI Semarang Erlin Ristiana, dan puluhan pengelola pabrik tekstil di Kota Cimahi.

Seperti diketahui, di Kota Cimahi dalam dua tahun terakhir terdapat 30-an pabrik yang membuang limbahnya ke kali atau aliran sungai di Cimahi.

Pabrik-pabrik ini sebagian besar sudah berbuat baik dengan mengolah limbahnya sesuai harapan.

Namun agar lebih maksimal, segera akan diadakan pelatihan lanjutan atau peningkatan kualitas sesuai arahan Kementerian Perindustrian maupun Dinas Lingkungan Hidup.

Prakteknya akan dilakukan sertifikasi pengolahan IPAL termasuk pembenahan berbagai bentuk perijinan, tujuannya, agar semua hal yang dilakukan pabrik bisa memenuhi syarat.

Komandan Sektor (Dansektor) 21 Satgas Citarum Harum Kol. Inf Yusep Sudrajat saat sesi wawancara mengatakan, pihaknya mengemban tugas khusus bersama Dansektor lainnya sesuai arahan Perpres No. 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai  (DAS) Citarum.

Dansektor 21 mengatakan, pihaknya dalam forum ini berkesempatan memaparkan sekilas data pabrik-pabrik di Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang, dan Kota Cimahi yang telah memaksimalkan pengolahan IPAL-nya, “Di tiga wilayah tersebut terdapat ratusan pabrik, dan terdapat 194 pabrik yang telah memaksimalkan IPAL-nya,” ujarnya.

“Di Kabupaten Bandung terdapat 116 industri, diantaranya yang membuat IPAL sebanyak 11 pabrik, yang menambah 79 pabrik dan yang memaksimalkan 26 pabrik,” ungkap Dansektor 21.

“Sedangkan di Kabupaten Sumedang terdapat 16 industri, diantaranya yang membuat IPAL 1 pabrik, yang menambah 15 pabrik, dan di Kota Cimahi terdapat 62 industri, diantaranya yang menambah IPAL 62 pabrik, semuanya kini berada dalam pantauan Sektor 21, dan kami bersyukur semua pabrik mengarah ke hal yang lebih baik, namun tetap kita semua masih butuh bimbingan,” pungkas Dansektor 21.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat Eva Pandora di kesempatan yang sama mengatakan, dalam catatannya, sedikitnya 277 industri di Bandung Raya pada tahun 2019 masih melakukan ketidak taatan dalam hal pengolahan limbah cair, dan tidak sesuai baku mutu.

“Rata-rata metoda pengolahan limbah cairnya bermasalah, dan Kota Cimahi, termasuk yang tingkat pencemarannya tinggi,” ungkap Eva Pandora, “Namun berkat perjuangan siang dan malam dari Dansektor 21 dan Satgas Citarum Sektor 21, kita semua sekarang dapat mengetahui peta pencemaran dalam tahap perbaikan,” pungkasnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi M.Roni mengatakan kepada para awak Media, pihaknya merasa gembira bila industri di daerahnya yakni Kota Cimahi dijadikan Pilot Project oleh BBTPPI Semarang dalam hal peningkatan kualitas pengolahan limbah industri.

“Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi sangat terbuka untuk kerjasama yang mengarah pada perbaikan lingkungan hidup, secepatnya kami di awal tahun 2020 akan melakukan langkah-langkah strategis, dengan pihak terkait,” pungkas M.Roni. (BRH / HS)