Sosiolog Seni Prof. Dr. Arthur S. Nalan Dikukuhkan Jadi Guru Besar ISBI Bandung

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Prof. Dr. Arthur Supardan Nalan S.Sen. M.Hum., melalui Sidang Terbuka Senat Akademik Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung akhirnya dikukuhkan menjadi Guru Besar dalam bidang ilmu Sosiologi Seni, Kamis, (19/12/2019), di Gedung Pertunjukan Sunan Ambu jalan Buah Batu Bandung.

Pengukuhan Prof. Dr. Arthur S Nalan sebagai Guru Besar ISBI Bandung dihadiri Rektor ISBI Bandung Dr. Hj. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum., Wakil Rektor, Dekan, dan Keluarga Besar Arthur S Nalan.

Prof. Dr. Arthur S Nalan dalam acara pengukuhan di ISBI Bandung menyampaikan orasi ilmiah berjudul, “NYENI (Nusantara Yang Eklektik Nan Indah) Renungan Seorang Sosiologi Seni Melalui Kecerdasan Budaya dan Rekayasa Budaya”.

“Orasi ilmiah saya terinspirasi dari buku Orang Jawa Nyeni, tetapi saya memilih yang eklektik atau memilih yang terbaik,” kata Prof. Dr. Arthur S Nalan.

Lebih lanjut Prof. Dr. Arthur S Nalan dalam orasi ilmiahnya menegaskan, Nusantara adalah potensi budaya, modal budaya, modal sosial, modal kreativitas dengan keragaman budaya dan tradisi yang hidup serta inspirasi yang tak akan pernah mati.

Prof. Dr. Arthur S Nalan mengungkapkan, selama ini dirinya memiliki sepuluh buku Indonesian Heritage dengan cara mencicil dari gaji sebagai dosen sejak tahun 1997, “Judul buku-buku tersebut adalah, Ancient History, The Human Enviromental, Early Modern History, Plants, Wildlife, Arsitektur, Seni Rupa, Seni Pertunjukan, Agama dan Upacara, Bahasa dan Sastra” ujarnya, “Membaca sepuluh buku Indonesian Heritage yang eklektik tersebut, rasanya kita tidak perlu malu untuk bersaing dengan bangsa lain di dunia,” tegasnya.

Mengenai lahirnya Undang-Undang No.5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dengan 10 objek pemajuan kebudayaan, Prof. Dr. Arthur S Nalan menegaskan, Indonesia perlu bercermin pada negara Cina dan Jepang yang memperlakukan kebudayaan dengan serius walaupun tanpa undang-undang pemajuan kebudayaan, “Negara Cina dan Jepang menyadari benar kebudayaan adalah modal bangsa yang dapat diberi perlindungan, pelestarian, pengembangan dan pemanfaatan, itu semua dilakukan dengan dua strategi penting yakni, melalui kecerdasan budaya dan rekayasa budaya,” ungkap Prof. Dr. Arthur S Nalan.

“Indonesia dengan kebudayaan Nusantaranya bisa saja membuat program Culture Smart asalkan ada Political Will pemerintah di mana salah satunya adalah pemajuan kebudayaan,” tegas Prof. Dr. Arthur S Nalan.

Prof. Dr. Arthur S Nalan di akhir orasi ilmiahnya mempersembahkan lakon “Siti Quburi” yang naskahnya ditulis dan disutradarai oleh dirinya, lakon ini menceritakan seorang penggali kubur bernama Siti Sawiah atau dijuluki Siti Quburi yang mendapat amanat menguburkan koruptor besar bernama Kabirun, keluarga Kabirun memberikan banyak hadiah untuk Siti Quburi, maka Siti Quburi harus bersikap atas limpahan hadiah tersebut.

Rektor ISBI Bandung Dr. Hj. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum., ditemui seusai acara pengukuhan mengatakan, masyarakat seni telah mengakui kepakaran Prof. Dr. Arthur Supardan Nalan, sehingga sering menjadi nara sumber dalam berbagai kegiatan seni dan kebudayaan di Indonesia, “Semoga dengan dikukuhkannya Prof. Dr. Arthur Supardan Nalan menjadi Guru Besar di ISBI Bandung dapat semakin meningkatkan peran dan fungsi perguruan tinggi seni di masyarakat,” pungkasnya.

Saat ini ISBI Bandung telah memiliki tiga orang Guru Besar, dan di tahun 2020 ISBI Bandung akan memiliki beberapa Guru Besar, dan salah satu kandidatnya adalah Rektor ISBI Bandung Dr. Hj. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum. (BRH)