TikTok Luncurkan Fitur Family Pairing

ARCOM.CO.ID ,Jakarta, (17/4/2020). Melanjutkan komitmen dalam membangun keamanan pengguna, TikTok, sebagai platform terdepan untuk video singkat mengumumkan peluncuran fitur Family Pairing atau Pelibatan Keluarga yang didukung Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Republik Indonesia dan UNICEF Indonesia.

Seperti diketahui, laporan dari UNICEF pada 2018 berjudul Use of Social Media by Children and Adolescents in East Asia menyebutkan sebesar 98.3% remaja berusia 16-24 tahun di Indonesia sudah memiliki ponsel, sementara 90.7% telah menggunakan media sosial.

“Saat ini semakin banyak keluarga menggunakan platform internet seperti TikTok untuk mencari hiburan, informasi, dan berhubungan satu sama lain,” ungkap Head of Public Policy of TikTok Indonesia, Malaysia, and the Philippines Donny Eryastha.

“Hal ini sudah terjadi sebelum COVID-19, terutama dengan adanya kebijakan social distancing yang membuat keluarga menjadi lebih sering bersama,” kata Donny Eryastha.

“Bahkan saat keluarga mengekspresikan kreativitas mereka dan berbagi momen di TikTok, di saat yang sama mereka seringkali belajar cara menavigasi lanskap digital bersama-sama, sekaligus fokus dalam memastikan pengalaman yang aman,” ungkap Donny Eryastha.

“Dengan mempertimbangkan kebutuhan keluarga, maka kami mengambil sejumlah langkah untuk mengembangkan dan meningkatkan tim, kebijakan, kontrol, serta sumber edukasi kami,” ujar Donny Eryastha.

“Maka pada 17 April 2020 TikTok memperkuat komitmen dengan memperkenalkan fitur Family Pairing, dan menerapkan batasan baru untuk fitur pesan langsung,” kata Donny Eryastha.

“Kami berkomitmen untuk memberikan masukan kepada orang tua, dan mendorong keterlibatan orangtua terhadap bagaimana anak remaja mereka menggunakan TikTok,” kata Donny Eryastha.

“Kami juga memfasilitasi diskusi penting di dalam keluarga tentang bagaimana menavigasi platform digital secara bertanggung jawab,” ujar Donny Eryastha.

“Kami yakin berbagai pilihan fitur yang ada akan memberikan rasa yang lebih aman dan terpercaya bagi pengguna TikTok di segala usia,” ujar Donny Eryastha, “Namun kami sadar usaha kami di area keamanan ini merupakan usaha yang berkelanjutan,” ungkapnya.

“Oleh karena itu kami sangat senang mendapat dukungan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, UNICEF Indonesia, dan para orang tua dalam memandu anak remaja saat menggunakan fitur-fitur di TikTok, serta menyediakan waktu untuk memberikan edukasi tentang keamanan berinternet, dan menjadi warga digital yang baik,” pungkas Donny Eryastha.

Saat ini banyak pengguna memulai perjalanan kreasinya di usia 14 tahun, dan mereka diperkenalkan terhadap luasnya pilihan aplikasi yang bisa diunduh.

Sehingga penting bagi anak remaja dan keluarga untuk belajar tentang literasi digital serta perilaku online yang cerdas.

Untuk itu TikTok menawarkan sejumlah hal untuk mendukung keamanan pengguna termasuk video edukasi soal keamanan, selagi mendorong orang tua untuk berdialog dengan anak remajanya tentang peraturan yang tercantum di Panduan Komunitas di TikTok.

Hal ini dilakukan agar mereka mengerti bagaimana perilaku komunitas yang bertanggungjawab, cara mengidentifikasi dan melaporkan konten yang mungkin melanggar panduan, serta bagaimana caranya menjadi anggota dari komunitas digital yang positif.

Fitur Family Pairing terbaru ini mendapat dukungan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Republik Indonesia, dan UNICEF Indonesia sebagai pengakuan atas usaha TikTok dalam memberdayakan orang tua untuk memfasilitasi perilaku online yang cerdas untuk anak remajanya.

“Meningkatkan literasi digital bagi orangtua untuk bisa mendampingi anak remajanya di ranah siber merupakan salah satu program utama Pemerintah,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Republik Indonesia Bintang Puspayoga.

“Untuk mewujudkan misi digital parenting ini, tentu saja dibutuhkan sinergi dari kolaborasi pemegang kepentingan, termasuk dari perusahaan teknologi seperti TikTok,” kata Bintang Puspayoga.

“Kami sangat mengapresiasi langkah TikTok meluncurkan fitur ini, di mana orang tua dapat lebih terlibat dalam menciptakan lingkungan internet yang aman untuk anak remaja,” pungkas Bintang Puspayoga.

Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan, pada 2019 terdapat 653 kasus kejahatan siber yang melibatkan anak dan remaja.

Laporan yang serupa dikeluarkan UNICEF di mana risiko penggunaan internet oleh remaja tanpa pengawasan termasuk pornografi, pelecehan seksual, radikalisme, dan perundungan siber.

“Ketika remaja menghabiskan lebih banyak waktu online untuk belajar dan berhubungan dengan teman-teman mereka, maka penting bagi orang tua membantu anak-anak remaja menavigasi peluang dan risiko yang mereka hadapi,” kata Perwakilan UNICEF Indonesia Debora Comini.

“Orang tua harus berbicara dengan anak remaja mereka secara teratur tentang aplikasi dan jejaring sosial yang mereka gunakan, dan berapa banyak waktu yang mereka habiskan untuk online,” kata Debora Comini.

“Orang tua juga harus memastikan pengaturan privasi dioptimalkan untuk menjaga mereka dan data mereka agar tetap aman, serta apakah mereka pernah mengalami sesuatu saat online yang membuat mereka khawatir,” tegas Debora Comini.

Seperti diketahui, fitur ini akan dibuka dalam beberapa minggu ke depan di Indonesia, akan memungkinkan orang tua dan anak remajanya untuk mengkostumisasi pengaturan keamanan mereka berdasarkan kebutuhan masing-masing.

Fitur ini menambah fitur keamanan TikTok dan melengkapi kinerja platform dalam menyediakan akses yang lebih baik ke fitur produk, saat pengguna mengembangkan literasi digitalnya.

Fitur Family Pairing memungkinkan orang tua untuk terhubung dengan akun TikTok anak remajanya dan menerapkan pengaturan seperti:

Manajemen Waktu Layar

Mengatur berapa lama anak remaja dapat menghabiskan waktu di TikTok setiap harinya.

Mode Terbatas

Membatasi tampilan konten yang mungkin tidak pantas untuk semua audiens.

Bahkan tanpa mengaktifkan fitur Family Pairing, orang tua dapat membantu anak remajanya mengatur Manajemen Waktu Layar dan Mode Terbatas dengan mengunjungi menu Kesejahteraan Digital di aplikasi kapan saja.

Pesan Langsung

Membatasi siapa yang dapat mengirim pesan ke akun yang terhubung, atau mematikan pesan langsung seluruhnya.

Dengan mengutamakan keamanan, TikTok memiliki banyak kebijakan dan kontrol untuk fitur pesan.

Contohnya hanya pengikut yang disetujui dapat saling bertukar pesan, dan TikTok tidak memperbolehkan gambar atau video dikirim di fitur pesan.

Mulai 30 April 2020 TikTok akan meningkatkan perlindungan tersebut untuk anggota komunitas yang lebih muda, dan secara otomatis menonaktifkan fitur pesan langsung untuk akun pengguna yang berusia di bawah 16 tahun. (BRH / RLS)