Dansektor 21 Jadi Pembicara Utama di FGD Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

ARCOM.CO.ID ,Kabupaten Bandung. Komandan Sektor (Dansektor 21) Kol.Inf.Yusep Sudrajat menjadi pembicara utama di Fokus Group Discussion bertajuk “Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Kabupaten Bandung”, Senin, (22/6/2020), di Aula Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung.

Turut hadir dalam kegiatan ini Camat Cicalengka Entang Kurnia, Danramil Cicalengka Kapten Arm Tedi Sopian, Kapolsek Cicalengka AKP Aep Suhendi, Perangkat Desa, Kepala Desa, Kader PKK, dan Kasi Komunikasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jabar Indah Dwiyanti mewakili Diskominfo Jabar selaku penyelenggara.

Komandan Sektor (Dansektor 21) Kol.Inf.Yusep Sudrajat dihadapan 25 orang peserta FGD dalam sambutannya mengatakan, dirinya menolak hadir bila terdapat kegiatan sosialisasi, diskusi, atau seminar yang hanya dihadiri sedikit orang, “Biasanya saya mengundang 200 hingga 300 peserta saat mengadakan Sosialisasi Program Citarum Harum, namun dikarenakan ada pandemi Covid-19, maka saya bersedia hadir di acara ini walaupun peserta FGD hanya 25 orang,” ujarnya.

Lebih lanjut Dansektor 21 mengungkapkan dirinya sudah enam bulan tidak menggelar Sosialisasi Program Citarum Harum karena memang sejak Januari 2020 masyarakat tidak boleh berkumpul dikarenakan adanya pandemi Covid-19, “Saat ini tatanan kehidupan sudah berubah kita selamanya akan pakai masker,” ujarnya.

Terkait Program Citarum Harum, Dansektor 21 menjelaskan, sejak lama muara sungai Citarum sangat kotor, “Berkat orang Prancis bernama Gary Bencheghib yang menyusuri sungai Citarum yang dipenuhi sampah di tahun 2017, maka sungai Citarum saat itu dikenal sebagai sungai terkotor di dunia,” ungkapnya.

“Maka pada 14 Maret 2018, Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum,” ungkap Dansektor 21.

“Letnan Jenderal Doni Monardo yang saat itu menjabat sebagai Pangdam III/Siliwangi ikut berjasa atas terbitnya Perpres Nomor 15 Tahun 2018, dikarenakan selain peduli lingkungan, Letnan Jenderal Doni Monardo yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana pada 24 Desember 2017 atau dua hari setelah menjabat sebagai Pangdam III/Siliwangi langsung memerintahkan prajuritnya melakukan peninjauan ke sungai Citarum.

“Program Citarum Harum hadir di Jawa Barat tidak lain karena jasa Letnan Jenderal Doni Monardo yang memang sangat peduli lingkungan, terutama kepeduliannya terhadap Sungai Citarum,” ungkap Dansektor 21

Terkait kondisi sungai Citarum, Dansektor 21 secara lugas dan terperinci menjelaskan kepada peserta FGD, “Sektor 21 Satgas Citarum Harum akan terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya hidup bersih dan sehat,” ujarnya.

“Seperti kita ketahui, sebanyak 35 juta orang hidupnya bergantung kepada Sungai Citarum,” ungkap Dansektor 21, “Bahkan 80 persen penduduk DKI Jakarta mengonsumsi air dari Sungai Citarum,” ujarnya.

“Maka ketika Sungai Citarum kotor dan mengalami kerusakan, masyarakat mengalami kerugian 197 triliun rupiah per tahun dikarenakan harus membeli air bersih,” ungkap Dansektor 21.

“Selain itu sektor energi mengalami kerugian sebesar 240 triliun rupiah per tahun, sektor perikanan rugi 10 triliun rupiah per tahun, dan sektor pertanian rugi 20 triliun rupiah per tahun,” kata Dansektor 21, “Dan hal ini sudah terjadi,” ujarnya.

“Sungai Citarum sendiri panjangnya 297 km, mulai dari Muara Gembong sampai Karawang,” ungkap Dansektor 21.

“Sektor 21 Satgas Citarum Harum yang terdiri dari 18 Sub Sektor ditugaskan mengawasi dan membersihkan anak sungai Citarum di wilayah Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Sumedang,” ungkap Dansektor 21.

“Permasalahan di Sektor 21 diantaranya masalah sampah, dikarenakan terdapat sampah sebanyak 20.462 ton per hari dan
71 persen tidak terangkut,” ungkap Dansektor 21, “Di antaranya ada sampah bekas kantong darah HIV AIDS, potongan tubuh manusia, dan alat medis bekas pakai yang tentunya dibuang Rumah Sakit yang isinya dokter-dokter berpendidikan, jadi bukan yang tidak berpendidikan saja yang membuang sampah ke sungai Citarum,” ujarnya.

“Oleh karena itu saya selaku Komandan Sektor 21 terus melakukan sosialisasi agar masyarakat jangan membuang sampah ke sungai, dan hingga kini saya sudah bertemu langsung dan mengedukasi masyarakat sebanyak 200 ribu orang,” ungkap Dansektor 21, “Sektor 21 sendiri terdapat enam hingga delapan juta orang yang harus diedukasi tentang pentingnya sungai Citarum,” ujarnya, “Bahkan masih banyak Pejabat dan anggota DPRD yang tidak tahu Program Citarum Harum,” ungkapnya.

Terkait permasalahan industri, Dansektor 21 mengungkapkan, di Jawa Barat terdapat 1.900 industri penghasil limbah, “Sebanyak 90 persen Industri Instalasi Pengolahan Air Limbah nya sebelum ada Program Citarum Harum tidak sesuai,” ungkapnya.

“Sejak 1980 pabrik sudah membuang limbah ke sungai Citarum seenaknya, dan 2018 masih ada pabrik membuang limbah kotor dan beracun ke sungai, hal inilah yang menyebabkan masyarakat Jawa Barat terutama anak-anak terkena dampak keracunan mercuri, e-coli, dan logam berat, yang pada akhirnya menyebabkan anak anak autis dan kanker,” kata Dansektor 21.

“Maka tidak salah bila ada jargon Jabar Juara, karena memang Jawa Barat Juara Autis, Juara Kanker, Juara Orang Gila, dan Juara Narkoba,” kata Dansektor 21.

Dansektor 21 menambahkan sejak lama sebelum ada program Citarum Harum, pabrik-pabrik banyak yang tidak menjalankan baku mutu, “Bahkan sampai hari ini tidak dijalankan, bayangkan Petugas Pengawas Lingkungan Hidup atau PPLH di Jawa Barat hanya empat orang dan perempuan semua, sedangkan industri yang harus diawasi sebanyak 1.900 industri,” ujarnya.

Terkait tindakan yang telah dilakukan terhadap industri dan pabrik nakal, Dansektor 21 mengungkapkan, pihaknya pernah melakukan pengecoran lubang saluran pembuangan limbah puluhan pabrik diantaranya PT Kahatex di Rancaekek selama dua minggu karena ketahuan membuang limbah kotor ke sungai.

“Bahkan ada pemilik pabrik yang mengaku pihaknya rugi 7,6 miliar rupiah karena saluran pembuangan limbahnya dicor Satgas Citarum Sektor 21,” ungkap Dansektor 21, “Saya katakan waktu itu anda sudah 40 tahun membuang limbah kotor dan beracun ke aliran sungai Citarum, coba hitung berapa kerugian masyarakat,” tegasnya.

“Pastinya Parameter di Sektor 21 hasil akhir air pembuangan limbah industri harus jernih dan ikan koi bisa hidup di penampungan air limbah akhir,” tegas Dansektor 21, “Saat ini sudah 175 industri berkomitmen, dan yang belum tinggal 19 industri, namun sudah 12 industri yang membangun IPAL nya dengan baik,” ungkapnya.

Masalah lainnya di Sektor 21 yakni bangunan liar yang berdiri di bantaran sungai, “Sebanyak 400 hingga 500 bangunan liar di bantaran sungai sudah kami tertibkan hanya dengan senyum, karena masyarakat sendiri yang membongkar bangunan liar tersebut,” kata Dansektor 21.

Terkait pemberitaan Sektor 21 Satgas Citarum Harum, Dansektor 21 di akhir paparannya mengungkapkan, Sektor 21 selama dua tahun telah diberitakan dan dipublikasikan oleh Media Cetak dan Online sebanyak 5.462 berita, Media Televisi sebanyak 205 tayangan, dan ditayangkan di YouTube sebanyak 187 kegiatan. (BRH)