RRI Gelar Dialog Interaktif Pendidikan di SMAN 3 Bandung

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Radio Republik Indonesia (RRI) menggelar Dialog Interaktif Pendidikan bertajuk “Proses Belajar Mengajar Pada Masa Pandemi”, Rabu pagi, (16/9/2020), di SMAN 3 jalan Belitung Bandung.

Hadir dalam Dialog Interaktif Pendidikan, Kepala Sekolah SMAN 3 Bandung Drs. Iwan Setiawan, Ketua Komite SMAN 3 Bandung yang juga Rektor Universitas Widyatama Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.IP., M.Si., Kasubag Perencanaan Disdik Jabar Edi Purwanto M.M yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat H. Dedi Supandi S.STP., M.Si., dan para awak Media yang tergabung dalam Forum Wartawan Pendidikan (FWP) Jawa Barat.

Kepala Sekolah SMAN 3 Bandung Drs. Iwan Setiawan dalam paparannya membahas terkait Kompetensi Dasar (KD) di lingkungan SMAN 3 Bandung, “Kami telah menerapkan sistem SKS dalam pelaksanaan pembelajaran di SMAN 3 Bandung di tengah masa pandemik, namun walau menggunakan sistem SKS, dalam penerapannya tidak luput dari Kompetensi Dasar yang dijadikan standar pihak sekolah,” ujarnya.

“Kompetensi Dasar menjadi patokan, namun di SMAN 3 Bandung kami memiliki perbedaan secara umum dengan sekolah-sekolah lain, karena sistem di kami sudah SKS,” ungkap Iwan Setiawan.

Lebih lanjut Iwan Setiawan mengungkapkan, SMAN 3 Bandung telah mendapat pembekalan dari Dinas Pendidikan Jawa Barat berupa persiapan Belajar Dari Rumah atau BDR sesuai hasil kajian Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Kami dari pihak SMAN 3 Bandung membuat dan merancang sistem kurikulum menghadapi BDR di awal semester satu yang sekarang diterapkan, dan telah dilakukan penyederhanaan kurikulum,” ungkap Iwan Setiawan.

“Langkah tersebut dilakukan sesuai arahan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang melakukan penyederhanaan Kompetensi Dasar,” kata Iwan Setiawan.

“Namun sebelum adanya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, kami dari SMAN 3 Bandung dibekali langkah-langkah penyederhanaan sistem pembelajaran,” kata Iwan Setiawan.

“Ke depan Dinas Pendidikan Jawa Barat akan mengeluarkan modul standar untuk pembelajaran, nantinya peserta didik yang menggunakan sistem modul dapat mengetahui hal yang akan dikerjakaan pada pembelajaran,” ungkap Iwan Setiawan.

Sedangkan Ketua Komite SMAN 3 Bandung yang juga Rektor Universitas Widyatama Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.IP., M.Si., meminta program Kementerian pendidikan RI lebih realistis dan tidak hanya berkutat dalam teori saja.

“Tahun- tahun kemarin saya mendukung program Menteri Pendidikan, tetapi sekarang program-programnya kok seperti itu,” kata Obsatar Sinaga.

Terkait SMAN 3 Bandung, Obsatar Sinaga menilai secara prinsip Komite SMAN 3 Bandung Bandung lebih mementingkan masalah transparansi agar pihak Komite bisa menjelaskan kepada orangtua siswa bahwa tidak ada masalah dengan pendanaan kegiatan di SMAN 3 Bandung, “Biasanya orangtua siswa merasa kecewa jika anggaran tidak jelas digunakan untuk apa,” tegasnya.

Lebih lanjut Obsatar Sinaga mengatakan, di masa New Normal jangan terlalu berharap sama persis dengan keadaan sebelumnya, namun semua pihak harus menyesuaikan.

“Kita harus menyesuaikan, memang kalau orang-orang lama akan merasa pembelajaran tidak efektif, karena ke depan pembelajaran seperti ini yang akan terus berlangsung,” ungkap Obsatar Sinaga.

“Sebagai contoh di Universitas Widyatama perkuliahan hanya berlangsung dua hari dalam seminggu, itupun menggunakan online, sehingga dapat meminimalisir biaya kuliah yang mahal, meniadakan bayar parkir, ongkos angkutan umum, makan, minum dan biaya lainnya kalau berangkat ke kampus,” pungkas Obsatar Sinaga. (BRH)