Health Talk Entrasol Kupas Vaksin Covid-19 dan Nutrisi untuk Lansia

ARCOM.CO.ID ,Jakarta (7/3/2021). KALBE Nutritionals melalui brand Entrasol berkolaborasi dengan Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (PERGEMI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menggelar Health Talk bertema, “Entrasol Kupas Tuntas Vaksin COVID-19 & Nutrisi untuk Lansia” secara virtual melalui aplikasi Zoom, Minggu (7/3/2021).

Health Talk yang bertujuan mengedukasi masyarakat terkait program vaksinasi yang telah dilaksanakan pemerintah dan nutrisi khusus lansia ini diikuti 261 peserta yang terdiri dari para dokter, masyarakat umum dan para Jurnalis.

Para pembicara di forum Health Talk yakni, Ketua Tim Advokasi Vaksinasi Covid-19 PB IDI Prof. DR. dr. Iris Rengganis, SpPD, KAI FINASIM, Dokter Penyakit Dalam Sub Spesialis Geriatric FKUI RSCM Ketua PERGEMI Prof. DR. dr. Siti Setiati, SpPD-KGer, M-Epid FINASIM, Head of Medical KALBE Nutritionals dr. Muliaman Mansyur, dan Business Unit Coordinator General Adult Nutrition KALBE Nutritionals Boy Sinaga.

Ketua Tim Advokasi Vaksinasi Covid-19 PB IDI Prof. Iris Rengganis menegaskan, kelompok masyarakat lansia penting untuk segera mendapatkan vaksinasi, “Tingkat kematian, atau risiko kematian tertinggi terjadi pada pasien lansia,” ungkapnya, “Sehingga sangat penting agar kelompok ini segera mendapatkan vaksin,” ujarnya.

Lebih lanjut Prof. Iris Rengganis mengatakan, seharusnya tidak perlu ada keraguan untuk menerima vaksinasi yang memang telah tersedia untuk warga lansia, kecuali mereka yang saat ini sedang sakit atau mereka pernah menderita COVID-19 sebelumnya, atau memang tidak bisa menerima vaksin karena kondisi medis.

“Vaksin yang disediakan Pemerintah telah melewati serangkaian uji klinis yang ketat dan menunjukkan vaksin ini aman untuk kelompok usia 60 tahun ke atas,” tegas Prof. Iris.

“Tidak ada efek samping serius maupun kematian yang dilaporkan, jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” pungkas Prof. Iris.

Dokter Penyakit Dalam Sub Spesialis Geriatric FKUI RSCM Ketua PERGEMI Prof. Siti Setiati menambahkan, para lansia harus mempersiapkan diri agar vaksinasi bekerja dengan optimal.

“Hal yang perlu dipertimbangkan terkait vaksinasi pada lansia adalah terjadinya immunosenescence atau disfungsi imunitas karena usia,” ungkap Prof. Siti Setiati, “Hal ini berhubungan dengan respon terhadap vaksin yang kurang maksimal,” ujarnya.

Lebih lanjut Prof. Siti Setiati mengatakan, immunosenescence‚Äč biasanya sudah terjadi apabila inflamasi kronis level rendah akibat dari kombinasi penurunan imunitas tubuh.

“Adanya penyakit penyerta atau komorbid juga meningkatkan terjadinya inflamasi kronis,” ungkap Prof. Siti Setiati, “Akibatnya akan ada peningkatan risiko infeksi, peningkatan risiko kanker, peningkatan risiko penyakit autoimun, penurunan respon terhadap imunisasi dan penurunan respon terhadap pengobatan infeksi,” ujarnya.

Prof. Siti Setiati juga mengingatkan kondisi khusus yang memengaruhi keefektifan vaksinasi pada lansia, “Faktor-faktor yang memengaruhi keefektifan vaksinasi pada lansia adalah faktor intrinsik, yaitu usia dan jenis kelamin, dan faktor ekstrinsik yaitu penggunaan obat-obatan,” ujarnya.

“Kebiasaan seperti merokok, lingkungan sekitar, serta kecukupan nutrisi pada lansia juga berperan penting dalam keefektifan vaksin tersebut,” ungkap Prof. Siti Setiati.

Terkait nutrisi, Prof. Siti Setiati juga mengingatkan, energi, protein, dan mikronutrien penting untuk tulang, otot, dan fungsionalitas.

Head of Medical KALBE Nutritionals dr. Muliaman Mansyur menambahkan, selain skrining riwayat penyakit dan kesiapan psikis, kondisi fisik juga diperlukan dalam persiapan sebelum, selama, dan sesudah vaksin.

“Sebaiknya lansia mendapatkan asupan nutrisi yang seimbang dengan kandungan tinggi protein, vitamin, dan mineral, khususnya Vitamin C, D dan Zinc,” kata dr. Muliaman Mansyur.

“Jika lansia kurang mendapat asupan nutrisi protein, maka risiko malnutrisi dan sarcopenia atau berkurangnya massa dan kekuatan otot akan mudah terjadi,” ungkap dr. Muliaman Mansyur, “Selain itu, imunitas yang terbentuk pasca vaksinasi menjadi kurang optimal,” ujarnya.

Lebih lanjut dr. Muliaman Mansyur mengatakan, setelah divaksinasi lansia memerlukan nutrisi memadai untuk menjaga imunitas, khususnya lansia yang masih aktif berkegiatan, baik secara profesional maupun secara sosial.

“Nutrisi berperan penting untuk semua orang, baik yang tidak bisa atau bisa divaksin, dan yang belum atau sudah divaksin,” ungkap dr. Muliaman Mansyur.

“Masing-masing mikronutrien seperti vitamin dan mineral khususnya vitamin D terbukti memainkan banyak peran dalam mendukung fungsi kekebalan dan mengurangi risiko infeksi,” tegas dr. Muliaman Mansyur.

Sedangkan Business Unit Coordinator General Adult Nutrition KALBE Nutritionals Boy Sinaga mengatakan, selama masa pandemi Entrasol hadir dengan kandungan tinggi protein dan vitamin untuk meningkatkan imunitas tubuh dan membantu memenuhi nutrisi harian lansia.

“Entrasol memiliki kandungan tinggi protein, tinggi serat, tinggi Vitamin D, dan kaya akan vitamin, mineral, serta rendah laktosa, sehingga sangat cocok untuk lansia untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh,” kata Boy Sinaga.

Lebih lanjut Boy Sinaga berharap dapat memberikan edukasi kepada lansia tentang vaksin dan peran nutrisi untuk imunitas lansia.

“Kolaborasi kegiatan dengan PERGEMI dan IDI diharapkan memberikan dukungan terhadap pentingnya program edukasi nutrisi dan vaksin untuk menyiapkan lansia sehat, juga melalui seminar dan pemberian ratusan ribu produk nutrisi dari Entrasol kepada lansia di Indonesia selama vaksinasi Covid-19, kata Boy Sinaga.

“Bagi lansia yang sudah dan tidak dapat divaksin karena satu dan lain hal, dengan kerjasama ini diharapkan tetap teredukasi dan mengerti nutrisi harian tepat untuk mereka,” pungkas Boy Sinaga.

Seperti diketahui, Covid-19, dapat menyerang segala usia, terutama warga lanjut usia (lansia), dikarenakan sistem imun mereka yang semakin menurun seiring pertambahan usia.

Penelitian menunjukkan, orang dewasa berusia di atas 60 tahun terutama mereka yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid lebih mungkin mengalami infeksi virus corona yang lebih parah – bahkan mematikan dibandingkan kelompok usia lainnya.

Gugus Tugas menyebutkan, 10,7% kasus terkonfirmasi positif Covid-19 menyerang kalangan lansia (di atas 60 tahun), bahkan kelompok usia ini mencatat 48,8% kasus pasien meninggal dunia akibat Covid-19, dan menjadi kelompok usia dengan jumlah kasus meninggal dunia terbesar dibandingkan kelompok usia lainnya.

Dari total 37.154 pasien Covid-19 yang meninggal di Indonesia hingga 6 Maret 2021, sebanyak 18.131 adalah lansia.

Artinya lansia memerlukan perhatian khusus agar terlindung dari berbagai risiko Covid-19, salah satu caranya adalah dengan menjaga nutrisi harian serta pemberian vaksin bagi lansia.

Saat ini pemerintah sedang menjalankan program vaksinasi untuk lansia, adapun lansia di Indonesia saat ini mencapai 28,7 juta jiwa atau 10,6 persen dari jumlah penduduk.

Namun hanya 21,5 juta jiwa yang ditargetkan menerima vaksinasi sepanjang program vaksinasi Covid-19 untuk lansia.

Pemberian vaksin pada lansia harus dilakukan secara hati-hati dan melalui proses skrining yang ketat sebelum dokter memutuskan untuk memberi persetujuan vaksinasi.

Program vaksinasi Covid-19 bagi kategori lansia di atas 60 tahun dimulai pemerintah sejak 8 Februari 2021 lalu, dan bisa dilakukan di fasilitas kesehatan baik di puskesmas maupun rumah sakit milik pemerintah dan swasta.

Vaksinasi bagi lansia merupakan tindak lanjut dari dikeluarkannya izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terhadap vaksin tersebut. (BRH)