Berkat Aplikasi Kesehatan Digital, Pemerintah Hemat Satu Triliun Rupiah

ARCOM.CO.ID ,Jakarta, (22/3/2021). Aplikasi kesehatan digital terus berkembang di Indonesia selama bertahun-tahun, dan di tengah pandemi Covid-19, penggunaan aplikasi ini meningkat, karena masyarakat terus mencari informasi kesehatan yang akurat melalui layanan telemedicine.

Namun, menurut laporan “Are Indonesia’s Digital Health Apps Fit Enough to Disrupt The Market?” oleh perusahaan konsultan manajemen global Kearney, pengguna di Indonesia menyatakan kualitas aplikasi kesehatan masih harus ditingkatkan.

Mengingat persaingan yang ketat dalam sektor yang terus berkembang ini, para pelaku bisnis memiliki kesempatan untuk mengambil posisi terdepan dan menjadi Unicorn aplikasi kesehatan berikutnya.

Sebuah studi dalam laporan tersebut menganalisis lebih dari 1.000 konsumen Indonesia mendapatkan wawasan langsung tentang penyakit dan kebutuhan perawatan kesehatan mereka.​

Studi ini berfokus pada faktor utama dalam penggunaan aplikasi kesehatan digital, di mana semua konsumen setuju bahwa kemudahan penggunaan (20,3%), biaya layanan (18,9%), dan kualitas diagnosis kesehatan (18,8%), adalah hal yang paling relevan.

Sekitar 15,4% konsumen menggunakan aplikasi kesehatan untuk terhubung dengan dokter yang terpercaya, 12,4% untuk konsultasi spesialisasi, dan kurang dari 8% menganggap fitur seperti tips kesehatan dan kebugaran, penyimpanan catatan medis, dan pengingat obat-obatan sebagai aspek yang penting.

Penelitian lebih lanjut menyatakan, regulasi dan kesiapan Indonesia untuk perawatan kesehatan digital terbagi dalam enam dimensi, yakni, diagnosis, resep, pemberian obat, teknologi, privasi data, dan komunikasi.

Jika dibedakan dengan pasar lainnya, regulasi dalam sistem perawatan kesehatan digital Indonesia masih dalam tahap awal.

​”Aplikasi kesehatan terus bersaing dengan menawarkan promosi harga dan akses yang lebih baik terhadap perawatan kesehatan,” kata Pakar Praktik Perawatan Kesehatan Kearney Sanath Kumar Subramanyam.

“Namun memberikan konsumen kemudahan dalam menghubungi dokter tidak menyelesaikan masalah kualitas perawatan,” ungkap Sanath Kumar Subramanyam.

“Konsumen menginginkan aplikasi dengan kualitas diagnostik yang baik dan dengan biaya yang terjangkau,” kata Sanath Kumar Subramanyam.

Studi oleh Kearney juga membandingkan kinerja antara aplikasi kesehatan terkemuka Alodokter, Halodoc dan aplikasi baru yang semakin berkembang, Good Doctor.

Dengan skala kepuasan pelanggan antara 1 sampai 5, ketiga aplikasi mendapat skor minimal 4 atau lebih dalam hal kemudahan penggunaan aplikasi.

Namun demikian, masih terdapat kesenjangan yang cukup tinggi dalam empat faktor utama seperti biaya layanan, kualitas diagnosis kesehatan, dokter yang dapat dipercaya, dan konsultasi spesialisasi.

Halodoc memimpin dalam hampir semua faktor, kecuali konsultasi spesialisasi yang merupakan fitur unggulan Good Doctor.

Kearney menjelaskan, aplikasi kesehatan digital dapat dikembangkan dengan model komersial yang sesuai.

Empat model yang dapat memainkan peran penting dalam pasar aplikasi kesehatan adalah model direct to consumer (B2C) yang dapat menarik banyak pengguna dengan harga yang menarik, sponsor subscription (B2B) yang dapat mengkategorikan segmen tertentu untuk mendapat lebih banyak keuntungan per pelanggan, freemium yang memfasilitasi konsumen untuk menerima konsultasi gratis tetapi dikenakan biaya untuk layanan yang berdekatan, serta sponsor subscription dan freemium yang memungkinkan keuntungan untuk diambil dari segmen yang lebih premium sambil meningkatkan volume dari segmen lain.

​”Sebagian besar aplikasi kesehatan di Indonesia berfokus pada model B2C, tetapi jenis ini tidak akan memberi model bisnis yang berkelanjutan dan menguntungkan,” kata Sanath Kumar Subramanyam.

“Untuk bertahan setelah pandemi mereda, aplikasi kesehatan perlu secara radikal mengubah model operasinya, dan merancang produk serta layanan yang disesuaikan guna memenuhi kebutuhan pelanggan,” ujar Sanath Kumar Subramanyam.

Menurut Kearney, aplikasi kesehatan perlu memahami delapan kategori kelompok pelanggan, dan empat sponsor di baliknya.

Dua segmen yakni masyarakat kurang mampu dan tanggungan BPJS berpendapatan rendah, disponsori oleh pemerintah.

Aplikasi kesehatan dapat menjadi solusi yang menjanjikan dan inovatif untuk program perawatan kesehatan universal yang berkelanjutan.

Solusi ini berpotensi memotong belanja bulanan pemerintah sebesar Rp.1 triliun untuk perawatan kesehatan dasar BPJS sebesar 10%-20%.

Hal ini akan mengurangi defisit Pemerintah dari rasio kerugian medis yang tinggi, dan premi yang dikumpulkan untuk menutupi pembayaran.

Pemerintah juga dapat memanfaatkan kapabilitas teknologi aplikasi ini untuk meningkatkan efisiensi operasional dan keuangan sistem BPJS.

Tiga segmen pendapatan rata-rata menengah ke atas, yakni, pasien berpenyakit kronis, lansia, dan masyarakat yang sadar kesehatan adalah sponsor diri mereka sendiri, karena mereka memiliki daya beli.

Aplikasi kesehatan dapat menawarkan pilihan layanan kesehatan yang lebih baik tetapi tetap terjangkau, dan perusahaan-perusahaan mensponsori biaya kesehatan karyawan mereka yang digaji.

Aplikasi kesehatan dapat bermanfaat bagi perusahaan sebagai one-stop solution untuk memberikan solusi perawatan kesehatan yang terjangkau, menjaga transparansi dalam pencatatan dan penggantian biaya karyawan, serta menawarkan pilihan perawatan kesehatan dengan kualitas lebih baik untuk meningkatkan kepuasan karyawan dan mengurangi ketidakhadiran.

Namun anehnya, hanya ada sedikit aplikasi kesehatan yang memanfaatkan ruang korporat business-to-business (B2B).

Asuransi swasta adalah sponsor utama untuk dua segmen, Envied Employee dan Modern Breadwinner.

Aplikasi kesehatan membuka banyak kemungkinan baru untuk asuransi kesehatan yang lebih terjangkau dan berkualitas dengan aplikasi khusus polis asuransi kesehatan.

Perusahan asuransi kesehatan juga dapat meningkatkan kesadaran dan memanfaatkan basis data pengguna yang lebih luas jika bermitra dengan aplikasi kesehatan.

​“Aplikasi kesehatan yang hanya melihat pasar yang homogen akan gagal, sedangkan aplikasi yang menghargai nuansa pasar akan memenuhi kebutuhan di seluruh segmen konsumen,” kata Presiden Direktur dan Mitra di Kearney Shirley Santoso.

“Tekanan untuk para pemain yang ada adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan kesuksesan mereka,” ungkap Shirley Santoso.

“Hal itu dapat dilakukan melalui lima prinsip pembangunan, yaitu, berkolaborasi dengan mitra chain value untuk lebih dekat dengan konsumen, mengadopsi struktur operasional yang gesit serta sesuai dengan kebutuhan konsumen, mengintegrasikan teknologi AI canggih bagi konsumen, menyusun strategi bermitra dengan dokter berkualitas, dan melibatkan pemangku kepentingan dari Pemerintah hingga perusahaan dalam ekosistem mereka,” pungkas Shirley Santoso. (BRH / RLS)