Ding: Penggunaan Layanan Prabayar di Indonesia Tertinggi di Antara Tujuh Negara

ARCOM.CO.ID ,Jakarta, (2/6/2021). Ding yang merupakan platform top-up seluler terbesar di dunia, telah mempublikasikan temuan perdana Global Prepaid Index (GPI) miliknya untuk Indonesia.

Survei tersebut meneliti bagaimana sikap pengguna terhadap layanan prabayar, seperti telepon seluler prabayar dan tagihan utilitas prabayar.

Di antara temuan tersebut, terungkap 93% orang Indonesia yang disurvei telah menggunakan beberapa aspek pasar prabayar, dengan persentase tertinggi di antara tujuh negara yang disurvei.

Melalui laporan tersebut terungkap jika orang Indonesia paling memiliki rasa tanggung jawab dalam membantu teman dan keluarganya dibandingkan dengan negara lain.

Survei tersebut menunjukkan responden Indonesia sangat memperhatikan perencanaan finansial dan merasa optimis dengan kehidupan perekonomiannya.

“Global Prepaid Index Ding telah mengungkapkan potensi pasar yang sangat besar untuk produk prabayar,” kata Founder & Chief Executive Ding, Mark Roden.

“Penelitian tersebut menunjukkan masyarakat memanfaatkan ekonomi prabayar karena pilihan, bukan karena kebutuhan, dan pasar prabayar memikat banyak orang dari semua tingkat pendapatan mereka,” ungkap Mark Roden, “Prabayar memberikan fleksibilitas, transparansi yang lebih baik, serta kontrol keuangan yang lebih baik,” tegasnya.

Mark Roden menambahkan, konektivitas telah menjadi sarana yang tak terpisahkan dalam menjaga kebersamaan keluarga dan orang yang dicintai selama satu tahun terakhir dan diprediksikan akan terus berlanjut di tahun 2021 dan seterusnya.

“Responden Indonesia mengungkapkan, aktivitas yang paling mereka nantikan saat sudah diperbolehkan ke depannya adalah menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman,” ungkap Mark Roden.

“Namun dengan adanya ketidakpastian terkait aturan perjalanan serta tantangan yang dihadapi pasca Covid-19 ke depannya, pulsa seluler dan konektivitas digital akan terus menjadi penting dan dibutuhkan,” pungkas Mark Roden.

Menurut GSMA, dari total 350 juta pasar telepon seluler di Indonesia, 97% atau sekitar 340 juta koneksi seluler dibayar di muka.

Selain itu, terdapat kebutuhan yang tinggi dari masyarakat Indonesia untuk mempunyai pulsa telepon dan terhubung dengan keluarganya di seluruh dunia.

Berikut ini beberapa temuan utama dalam laporan dari responden di Indonesia.

Di Indonesia, 93% responden berpartisipasi dalam setidaknya satu aspek pasar prabayar dengan 48% menggunakan dua atau lebih produk prabayar.

Popularitas layanan prabayar mengungguli layanan seluler, dengan lebih dari setengah responden menyatakan, mereka menggunakan produk prabayar lainnya, seperti tagihan utilitas prabayar, kartu hadiah, atau kartu debit prabayar.

Menerima pulsa merupakan pengalaman positif bagi masyarakat Indonesia, hampir separuh (49%) orang Indonesia menyatakan, mereka merasa senang saat menerima pulsa, dan 49% merasa beruntung karena memiliki seseorang yang dapat membantu mereka dengan hal ini, namun sebagian kecil merasa bersalah karena menerima pulsa dari teman atau keluarga.

Tingginya jumlah orang Indonesia yang mengirim dan menerima pulsa dirasa sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keluarga.

Sebanyak 43% melaporkan merasa sudah menjadi kewajiban mereka, sedangkan 41% lainnya menyatakan bahwa penerima sangat membutuhkannya.

Seperti diketahui, WhatsApp merupakan cara paling populer bagi orang Indonesia untuk tetap berhubungan dengan orang lain.

Orang Indonesia suka menggunakan WhatsApp untuk saling berkomunikasi, di mana 89% menyatakan WhatsApp merupakan media yang mereka pilih, kemudian diikuti oleh Facebook dengan persentase 44%, dan Instagram sebanyak 41%.

Selain itu lebih dari 70% orang Indonesia menyatakan mereka tertarik dengan SuperApp, di mana 64% di antaranya menyatakan pengiriman pulsa melalui aplikasi adalah cara yang lebih mereka sukai saat ini.

Tiga perempat (74%) orang Indonesia menyatakan mereka pernah mengirim atau menerima pulsa kepada dan/atau dari keluarga maupun teman.

Kegiatan saling transfer pulsa antar keluarga sangat tinggi dengan persentase 88%, menyatakan mereka sudah pernah mengirimkan pulsa ke anggota keluarga, dan 88% menjawab mereka pernah menerima hal yang sama, demikian juga ada sekitar 81% kegiatan transfer pulsa yang terjadi antara teman dan keluarga.

Pandangan masyarakat Indonesia saat ini terhadap masalah ekonomi dan ketenagakerjaan cenderung lebih positif dibandingkan dengan negara lain.

Kepercayaan konsumen di Indonesia berada pada peringkat 64,1, jauh di atas rata-rata global yang hanya sebesar 55,1.

Tiga perempat responden menyatakan optimis terhadap perekonomian, sementara 69% menyatakan sentimen positif tentang ketenagakerjaan, dan 70% terkait pendapatan keluarga.

Sebanyak 4 dari 5 (78%) masyarakat Indonesia merasa pemerintah telah melakukan semua usaha yang dapat dilakukan dalam menangani krisis Covid. (BRH / RLS)