Taman Tematik Ridwan Kamil Pinggirkan Penyandang Disabilitas

IMG_20140923_142333ARCOM.CO.ID ,Bandung. Walikota Bandung Ridwan Kamil saat ini sedang gencar-gencarnya merenovasi dan membangun taman tematik di sudut kota Bandung, namun sangat disayangkan karena taman-taman tersebut tidak aksesibilitas dan terkesan meminggirkan penyandang disabilitas.

Atas tindakan Walikota Bandung Ridwan Kamil yang kurang memperhatikan penyandang disabilitas, akhirnya para penyandang disabilitas berkumpul dan menggelar acara, “Bincang-Bincang Mengenal Disabilitas dan Kebutuhannya,” Sabtu, (20/9/2014), di Le Marly Pantry jalan Citarum Bandung.

Turut hadir dalam acara ini, Coordinator Project CBM Fredy Gaghauna, Deputy Director Bandung Independent Living Center (Bilic) Aden Ahmad, Kepala Divisi Pemberdayaan Ekonomi Bilic Zulhamka Julianto, Humas Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia Jawa Barat Undang Permana, dan Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) Jawa Barat Billy Birlan Purnama.

“Buat apa Ridwan Kamil bikin taman bila tidak ada akses buat penyandang disabilitas,” kata Deputy Director Bilic Aden Ahmad di awal paparannya, “Padahal penyandang disabilitas bayar pajak,” ujarnya, “Penyandang disabilitas di kota Bandung kewajibannya sama tetapi haknya tidak sama,” tegasnya.

Lebih lanjut Aden mengungkapkan bahwa dirinya sudah memberikan masukan kepada Ridwan Kamil, namun hingga saat ini belum difasilitasi, “Walikota Bandung tidak memperhatikan peraturan,” tegas Aden, “Bahkan persyaratan teknis dari peraturan menteri PU Nomor 30 Tahun 2006 tidak diimplementasikan oleh Ridwan Kamil,” ujarnya.

“Saat ini yang saya ketahui Ridwan Kamil memiliki 7 orang staf ahli,” ungkap Aden, “Tetapi dalam hal kepedulian terhadap penyandang disabilitas, rapor Ridwan Kamil di bawah lima,” tegasnya, “Bahkan Ridwan Kamil sebagai arsitek sekaligus Walikota Bandung masih kalah dengan adik kelasnya Gunawan Tanuwijaya dalam hal peduli penyandang disabilitas,” katanya.

Aden mengungkapkan bahwa masih banyak bangunan di kota Bandung yang tidak mempedulikan penyandang disabilitas, bangunan tersebut diantaranya, Gedung Sate, Lapangan Gasibu, Plaza Balaikota, dan tempat-tempat ibadah, “Kota Bandung masih kalah jauh dengan Solo dan Jogjakarta dalam hal kepedulian terhadap penyandang disabilitas,” tegas Aden.

Coordinator Project CBM Fredy Gaghauna mengatakan bahwa, saat ini penyandang disabilitas masih dibeda-bedakan dengan manusia normal pada umumnya, seperti dalam hal lapangan kerja, bahkan lowongan pekerjaan bagi penyandang disabilitas dirasakan masih jarang.

Begitu pula dengan sarana yang tersedia masih dirasa kurang, “Para penyandang disabilitas sangat membutuhkan media massa untuk dapat membantu mensosialisasikan penyandang disabilitas kepada masyarakat umum, agar bisa berbaur dengan masyarakat pada umumnya, serta dapat mengeluarkan segenap kemampuan dan kreatifitas yang dimilikinya,” kata Fredy.

“Penyandang disabilitas juga ingin
dilibatkan dalam proses dan perencanaan pembangunan agar mereka tidak dipandang sebelah mata,” ujar Fredy, “Selain itu keterlibatan penyandang disabilitas dalam pembangunan sama pentingnya,” tegasnya.

“Sebagai contoh di kota Bandung banyak taman kota yang didirikan, tetapi sangat sedikit aksesibilitas (sarana kemudahan) untuk para penyandang disabilitas, seperti tidak adanya kursi roda, tongkat, dan lain-lain,” ungkap Fredy, “Begitu juga di sekolah-sekolah dan Universitas, masih banyak sarana yang belum ada bagi penyandang disabilitas,” kata Fredy di akhir paparannya.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki penyandang disabilitas terbesar, sebagai perbandingan, 15% penduduk Indonesia adalah penyandang disabilitas. (Bagoes Rinthoadi / Lucky Ronaldi)