Ridwan Kamil Jangan Mimpi Jadi Gubernur

IMG_20150528_040503

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Pengamat Keamanan dan Politik Universitas Padjadjaran (Unpad)/Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Unpad Muradi mengatakan bahwa Walikota Bandung Ridwan Kamil sebaiknya jangan bermimpi untuk menjadi Gubernur apabila tidak mampu mengendalikan birokrasi.

Hal ini dikatakan Muradi saat menjadi pembicara di acara Rilis Hasil Survei Sosial Kemasyarakatan mengenai “Penilaian Kepuasan Masyarakat Terhadap Kinerja Ridwan Kamil & Oded”, Rabu, (27/5/2015), di Hotel Amaroossa jalan Aceh Bandung, turut hadir peneliti Lingkar Studi Informasi dan Demokrasi (elSID) Dedi Barnadi.

“Saat ini program-program Walikota Bandung Ridwan Kamil menihilkan birokrat,” kata Muradi di awal paparannya, “Bahkan hubungan Ridwan Kamil dan Sekda kota Bandung Yossi Irianto biasa saja, padahal Sekda merupakan jantungnya birokrat,” ujarnya, “Saya berharap Ridwan Kamil bisa mengurus birokrasi ternyata urusan birokrasi diserahkan kepada Wakil Walikota Bandung Oded M. Danial,” tegasnya.

“Ridwan Kamil sudah hampir dua tahun memimpin kota Bandung, namun belum bisa mengendalikan birokrat, ini artinya Ridwan Kamil menghindari masalah,” katanya, “Jokowi saja ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta mampu mengendalikan birokrat hanya dalam waktu 6 bulan,” ujarnya, “Hal ini menunjukkan Ridwan Kamil merupakan tipe pemimpin pegunungan yang memiliki agenda dan program khusus,” katanya.

Lebih lanjut Muradi mengatakan bahwa menurut catatannya kinerja Ridwan Kamil sporadis dan berbasis popularitas, “Ridwan Kamil cenderung menghindari penggunaan APBD, mendahulukan program berbasis dirinya, menghindari masalah serta tidak berupaya menuntaskannya, dan meminimalisir pelibatan birokrasi,” tegasnya.

Mengenai program Bandung Juara yang diusung Ridwan Kamil, Muradi mengatakan bahwa program tersebut berbasis pokja dan tidak ada skala prioritas, “Publik terlibat aktif dalam program Bandung Juara, namun lagi-lagi birokrat bukan aktor utama dan anggarannya tidak sepenuhnya dari APBD,” katanya, “Ridwan Kamil Sosial Media (Sosmed) oriented, padahal menurut saya era Medsos 3 tahun lagi akan berakhir,” tegasnya.

IMG_20150528_040515
Mengenai pembangunan yang dilakukan Ridwan Kamil, Muradi menegaskan bahwa pembangunan dan pengadaan di kota Bandung berlangsung terpusat, mendahulukan kebutuhan kelas menengah, sporadis, tidak terintegrasi dan tidak orientasi jangka panjang, “Pendidikan, Kesehatan, dan Kesos di kota Bandung substansi infrastukturnya tidak kelihatan,” ujarnya, “Saya heran setiap hari Jumat, Sabtu dan minggu kota Bandung macet, tetapi PAD kota Bandung sedikit, ini artinya sektor perparkiran tidak dikelola dengan baik,” katanya.

“Saat ini Ridwan Kamil melakukan program-program kemasan dan pembangunan citra,” kata Muradi, “Hal ini dapat dilihat dengan diutamakannya pembangunan taman di kota Bandung, padahal taman merupakan urusan ke-200,” ujarnya, “Bahkan menurut teman baik saya, masyarakat kota Bandung saat ini seperti sedang diberi “ganja” oleh Ridwan Kamil, sehingga menjadi Fly dan teler,” ungkapnya.

Mengenai penyelenggaraan Konperensi Asia Afrika (KAA) beberapa waktu lalu, Muradi mengatakan bahwa KAA dijadikan Ridwan Kamil sebagai panggungnya, “KAA merupakan hajatan nasional, tetapi oleh Ridwan Kamil dijadikan hajatannya kota Bandung,” ujarnya.

“Ridwan Kamil anti kritik, tidak sensitif gender, dan cenderung diskriminatif,” kata Muradi, “Hal ini membuat saya heran kepada Ridwan Kamil, padahal ia lama di luar negeri,” ujarnya.

Di akhir paparannya Muradi menegaskan bahwa sebaiknya Ridwan Kamil jangan macam-macam dulu dan serius menyelesaikan masalah sampah, banjir, dan parkir, selain itu Muradi berharap pemanfaatan dana CSR harus proporsional. (Bagoes Rinthoadi)