Sebanyak 114 Karya Seni Lawan Korupsi Dipamerkan di Bandung

20151203_202129

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bersama Koalisi Seni Indonesia (KSI) dalam rangka memeriahkan Kongres Kesenian Indonesia (KKI) III 2015 dan Festival Anti Korupsi Bandung 2015 menggelar pameran Seni Lawan Korupsi selama 12 hari, (3-14/12/2015), di Gedung Gas Negara jalan Braga Bandung.

Pembukaan pameran Seni Lawan Korupsi bertajuk “Melalui Seni, Kita Dapat Menghentikan Korupsi”, berlangsung Kamis malam, (3/12/2015), di Gedung Gas Negara dan dihadiri Komisioner KPK non aktif Bambang Widjojanto, Ketua Pengurus DKJ periode 2013-2015 Irawan Karseno, dan Ketua Pengurus KSI Abduh Azis.

Pameran Seni Lawan Korupsi di Bandung memamerkan 114 karya yang mengeritik keras korupsi, dan diikuti komunitas Akademi Samali, Creative Circle Indonesia (CCI), dan Demokreatif.

“Nafas lanjutan gerakan Seni Lawan Korupsi yang kami tampilkan untuk mengobarkan semangat lawan korupsi,” kata Ketua Pengurus DKJ periode Irawan Karseno.

Sedangkan Ketua Pengurus KSI Abduh Azis mengatakan, pameran Seni Lawan Korupsi hadir sebagai penegasan komitmen para seniman, lembaga, maupun komunitas seni, “Mereka yang hadir setia menjalankan fungsinya yaitu sebagai alat penyadaran publik maupun sebagai benteng terakhir nurani bangsa,” ujarnya.

Seni Lawan Korupsi merupakan serangkaian aktivitas kesenian yang berkesinambungan dalam bentuk pameran, pertunjukan, bursa, dan pidato kebudayaan yang melibatkan para pegiat seni yang peduli.

Gerakan ini pertama kali dideklarasikan pada 5 Maret 2015 di Taman Ismail Marzuki Jakarta sebagai salah satu ikhtiar pemberantasan korupsi.

Lebih dari 30 seniman dan komunitas di Jakarta saat itu turut serta dalam gerakan tersebut, alasan mereka hadir karena awal tahun 2015 para seniman berada dalam keprihatinan yang dalam akibat semakin sistematisnya upaya pembungkaman gerakan anti korupsi melalui tindak kriminalisasi terhadap pimpinan KPK.

Menurut para seniman, ketika segala upaya distorsi informasi dan konspirasi dilakukan koruptor, kesadaran publik akan bahaya korupsi merupakan alat yang mampu menghentikan korupsi, dan publik perlu dibangunkan dan digerakkan untuk melawan korupsi.

Opsi tandingan perlu diwadahi dalam seni agar lebih masif, membumi dan, mudah dipahami, selain itu seni dapat lebih luwes dalam mengangkat persoalan sosial sekaligus mendorong budaya baru anti korupsi. (Bagoes Rinthoadi)