Pilihan Strategis Menyelamatkan Kebun Binatang Bandung

20160514_120033

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Koordinator Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Sobirin tidak tinggal diam melihat dilema antara Pemerintahan Kota Bandung dan Pengelola Kebun Binatang Bandung pasca kematian gajah betina bernama Yani.

Sobirin bersama anggota DPKLTS, Budayawan Sunda, dan Aktivis peduli lingkungan hidup menggelar Press Conference Save Kebun Binatang Bandung, Sabtu, (14/5/2016), di Restoran Sindang Reret jalan Surapati Bandung.

“Saat ini isu yang berkembang adalah pengelola Kebun Binatang Bandung yaitu Yayasan Margasatwa Tamansari dianggap kurang memperhatikan perawatan hewan, sehingga menyebabkan kematian gajah betina bernama Yani,” kata Koordinator Dewan Pakar DPKLTS Sobirin di awal paparannya.

Lebih lanjut Sobirin mengatakan saat ini terjadi dilema antara Pemkot Bandung dan Pengelola Kebun Binatang Bandung, “Walikota Bandung Ridwan Kamil (RK) sangat kecewa dengan kejadian ini, bahkan RK menyerukan kepada warga untuk memboikot Kebun Binatang Bandung,” katanya.

“Namun dilain pihak muncul petisi dari warga dan pemerhati satwa yang digagas Save Bandung Zoo Project di situs change.org,” ujar Sobirin, “Petisi ini berisi seruan pada masyarakat untuk menyelamatkan dan memperbaiki Kebun Binatang Bandung bersama-sama,” katanya.

Sobirin mengatakan dalam kasus Kebun Binatang Bandung ada pilihan strategis dalam mengambil keputusan, yaitu dengan variabel kekuatan (Strength), kelemahan (Weaknesses), peluang (Opportunities), dan ancaman (Threats).

“Dengan variabel kekuatan, terungkap Kebun Binatang Bandung merupakan objek wisata terbaik, warisan cagar perlindungan dan pelestarian kekayaan alam, yang terpenting Yayasan Margasatwa Tamansari tidak berniat memindahtangankan Kebun Binatang Bandung,” kata Sobirin.

“Kawasan Kebun Binatang Bandung memiliki luas 14 hektar,” ungkap Sobirin, “Sebanyak 18,5 % untuk cagar satwa, 55,2 % untuk cagar tanaman, 4,7 % untuk wisata air, dan sisanya untuk ruang publik,” katanya.

“Kebun Binatang Bandung memiliki koleksi satwa 900 ekor dari 200 jenis satwa termasuk 79 jenis satwa langka,” ungkap Sobirin.

Lebih lanjut Sobirin mengatakan, dengan variabel kelemahan terungkap Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (BKSDA) jarang mendapat laporan kondisi satwa dari Kebun Binatang Bandung.

20160514_114708

“BKSDA menganggap pengelola Yayasan Margasatwa Tamansari melanggar Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 31 Tahun 2012, dan kematian gajah diduga karena tidak dirawat dengan baik,” ujarnya.

“Pihak pengelola Kebun Binatang Bandung dianggap lalai dalam merawat satwa, sarana kurang, dan tidak ada dokter hewan,” ungkap Sobirin.

“Bahkan dokter hewan Dinas Peternakan Provinsi Jabar Indriantari mengatakan fasilitas Kebun Binatang Bandung belum memenuhi standar,” kata Sobirin, “Selain itu pengelola Kebun Binatang Bandung sangat tertutup,” tegasnya.

“Dengan variabel Peluang, akhirnya muncul petisi penyelamatan Kebun Binatang Bandung,” kata Sobirin, “Petisi tersebut mendorong Pemerintah Kota Bandung dan pemilik Kebun Binatang Bandung bersama-sama membenahi Kebun Binatang Bandung,” ujarnya.

“Pihak Yayasan harus terbuka, karena Kebun Binatang Bandung telah menjadi milik publik,” kata Sobirin, “Bahkan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) memberi tenggat 30 hari kepada pengelola untuk memperbaiki fasilitas Kebun Binatang Bandung,” tegasnya.

Sobirin menegaskan dengan variabel Ancaman terungkap, terjadi adu klaim kepemilikan lahan Kebun Binatang Bandung, “Tiga pihak yang terlibat yaitu Pemerintah Kota Bandung, Yayasan Margasatwa Tamansari, dan warga berinisial E dan P,” katanya.

“Variabel Ancaman mengakibatkan Walikota Bandung Ridwan Kamil menghimbau warga untuk tidak mengunjungi Kebun Binatang Bandung, bahkan RK membuat seruan Boikot Bonbin melalui akun pribadinya,” kata Sobirin

“Pemerintah Kota Bandung berencana melayangkan somasi pada Yayasan Margasatwa Tamansari karena tidak membayar sewa lahan sejak 2007 sebesar 2,4 miliar rupiah,” ungkap Sobirin, “Pemerintah Kota Bandung berencana membuat Kebun Binatang modern,” ujarnya.

Sobirin selaku Koordinator Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) menawarkan pilihan strategis dalam menyikapi masalah Kebun Binatang Bandung.

“Bila mengambil strategi agresif (kekuatan + peluang), maka tujuan akan terlaksana namun banyak resiko,” kata Sobirin, “Strategi agresif perlu tokoh panutan yang pro warga, pro Kebun Binatang Bandung, dan pro kelestarian lingkungan,” tegasnya, “Strategi ini akan menghadapi tantangan besar dari masyarakat dan pihak yang tidak setuju,” tegasnya.

“Adapula strategi ubah haluan yang mengatasi kelemahan untuk menangkap peluang,” kata Sobirin, “Dengan strategi ini tujuan akan terlaksana tapi membutuhkan waktu yang sangat lama,” ujarnya, “Perlu sosialisasi untuk meyakinkan Pemerintah kota, masyarakat, dan pihak yang tidak setuju,” katanya, “Studi pendukung dituntaskan, dan Master Plan dan desain rinci perlu direview,” tegasnya.

20160514_114759

“Strategi Diversifikasi yang memanfaatkan kekuatan untuk mengatasi ancaman menghasilkan tujuan terlaksana, tapi butuh waktu lama dan banyak resiko,” kata Sobirin, “Perlu skenario solusi untuk mengatasi ancaman, serta dampak teknis dan non teknis yang mungkin terjadi,” ujarnya.

“Terakhir adalah strategi defensif yaitu memahami kelemahan dan mewaspadai ancaman,” kata Sobirin, “Bila strategi ini diambil, tujuan tidak akan terlaksana, dan tetap bertahan dengan kondisi terancam dari pihak yang tidak setuju,” ujarnya.

“Dengan strategi ini pengelolaan Kebun Binatang Bandung dilakukan secara internal dengan reorganisasi, pilihan person yang kompeten, Clean dan Accountable,” kata Sobirin, “Selain itu pelayanan dan pendampingan kepada pengunjung ramah dan profesional,” ujarnya, “Adanya insentif dan disinsentif pada semua pihak dalam rangka mengembangkan Kebun Binatang Bandung berbasis warga dan lingkungan,” tegasnya.

Sobirin menegaskan, strategi apapun yang dipilih dalam kasus Kebun Binatang Bandung semuanya mengandung resiko, “Sejarah pembangunan apapun dari jaman ke jaman selalu menimbulkan konflik, baik konflik antar pemangku kepentingan maupun konflik dengan alam,” katanya.

“Pembangunan berkonsep tekno-ekonomi mendominasi akhir abad ke-20 dan konvensional,” kata Sobirin, “Pembangunan tekno-ekonomi biasanya didorong desakan investor serta kebijakannya tergesa-gesa,” ujarnya, “Kebijakannya sentralistik, minus negosiasi, banyak resiko dan konflik, munculnya bencana lingkungan,” katanya, “Memang pembangunan tekno-ekonomi jangka pendek sukses, tetapi jangka panjang bermasalah,” tegasnya.

Lebih lanjut Sobirin mengungkapkan, pembangunan berkonsep keterpaduan bidang/sektor memunculkan fakta sinergi antara bidang/sektor hanya di atas kertas, “Masyarakat hanya menjadi penonton dan tidak diajak berpartisipasi,” katanya.

“Terakhir adalah pembangunan berkonsep keterpaduan dan negosiasi,” kata Sobirin, “Konsep ini menghasilkan visi bersama dan sinergi semua sektor,” ujarnya, “Adanya negosiasi dengan warga, Bottom-Up, kearifan, dan kelestarian lingkungan,” katanya, “Munculnya kesetaraan dan sinergi antar Stakeholders, jangka pendek dan panjang sukses, serta kental dengan gotong royong dan partisipasi masyarakat,” tegasnya.

“Strategi yang dipilih harus tepat, demi kesejahteraan rakyat, kemakmuran wilayah, dan kelestarian lingkungan,” kata Sobirin, “Strategi tepat akan membuat Kebun Binatang Bandung menjadi Icon andalan kota Bandung,” kata Sobirin di akhir paparannya.

Mantan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Jawa Barat Memet Hamdan yang hadir di Press Conference Save Kebun Binatang Bandung mengatakan, dirinya kecewa Walikota Bandung Ridwan Kamil mengeluarkan Statement Boikot Bonbin di akun media sosial pribadinya, “Saya menantang Ridwan Kamil (RK) untuk debat terbuka, karena RK menyuarakan boikot Kebun Binatang Bandung,” tegas Memet.

“Saya khawatir RK hanya emosi saja, seharusnya RK lebih bijak mengeluarkan statement, karena Kebun Binatang Bandung menyangkut publik,” tegas Memet, “Di Kebun Binatang Bandung banyak rumah makan, uangnya diambil Pemkot Bandung tetapi mengurus tidak mau,” katanya.

“Sekali lagi dengan segala respek, saya menantang RK debat terbuka tentang Kebun Binatang Bandung,” kata Memet, “Jangan sampai Walikota Bandung ngomong boikot seenaknya,” tegasnya, “Walikota Bandung perlu diingatkan, jangan mentang-mentang punya kewenangan ngomong seenaknya,” ujarnya, “Walikota harus melindungi masyarakatnya,” kata Memet di akhir paparannya. (Bagoes Rinthoadi)