IWS Gelar Asian Watercolour Expression III di Bandung

IMG_20160728_112603

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Indonesian Watercolour Society (IWS) akan menggelar pameran “Asian Watercolour Expression III-2016” bertajuk “Hallo…Hallo Bandung”, (2-10/8/2016), di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) jalan Perintis Kemerdekaan Bandung.

Hal ini terungkap dalam Press Conference Indonesian Watercolour Society, Rabu, (27/7/2016), di Gedung Indonesia Menggugat jalan jalan Perintis Kemerdekaan Bandung.

Turut hadir Chairman of Indonesian Watercolour Society (IWS) Robby Lulianto, Ketua acara Asian Watercolour Expression III-2016 Hendrik Lawrence Lukman, Wakil Ketua Jennifer, Sekretaris IWS Hanny Widjaja, dan Pelukis, Pengamat Seni dan Kebudayaan Herry Dim.

“Pameran Asian Watercolour Expression III-2016 bertema Hallo…Hallo Bandung diharapkan bisa menggambarkan rasa rindu untuk bertemu antara para pelukis cat air Asia,” kata Chairman of Indonesian Watercolour Society (IWS) Robby Lulianto di awal paparannya.

“Semoga istilah Hallo…Hallo Bandung mengingatkan kita untuk selalu berkomunikasi antar para pelukis cat air,” kata Robby, “Dengan istilah ini kita diingatkan selalu berjuang untuk karya yang lebih baik, dan menjadi pemenang bagi ego kita sendiri,” ujarnya.

Lebih lanjut Robby mengatakan, pameran Asian Watercolour Expression III-2016 diselenggarakan untuk yang ketiga kalinya secara berturut-turut setiap dua tahun, “Pameran Asian Watercolour Expression yang pertama diselenggarakan tahun 2012 secara berturutan di tiga kota yaitu Jakarta, Jogjakarta, dan Solo,” kata Robby.

“Sedangkan pameran Asian Watercolour Expression yang kedua diselenggarakan tahun 2014 di Denpasar Bali dan mendapatkan rekor MURI,” pungkas Robby.

Ketua acara Asian Watercolour Expression III-2016 Hendrik L. Lukman mengatakan, Indonesian Watercolour Society (IWS) akan terus menggalakkan seni lukis cat air, “Walaupun di Indonesia khususnya Bandung suhunya lembab, dan lukisan cat air hanya mampu bertahan tujuh hari di kawasan Bandung Utara meskipun lukisan sudah disimpan di dalam kaca,” kata Hendrik.

Mengenai peserta Asian Watercolour Expression III-2016 yang datang dari berbagai penjuru Asia, Indonesian Watercolour Society (IWS) akan mengajak para peserta ke kawasan Braga, Gunung Tangkuban Perahu, Lembang, dan Saung Angklung Udjo, “Nantinya peserta akan diajak melukis di Gedung Sate,” kata Hendrik.

“Pameran Asian Watercolour Expression III-2016 di Gedung Indonesia Menggugat nantinya akan memamerkan 120 lukisan di kertas ukuran 38 x 56,” kata Hendrik.

Di akhir paparannya Hendrik mengatakan ada pelukis cat air yang kini usianya mencapai 90 tahun dan aktif melukis, “Bahkan harga lukisan cat air ada yang mencapai miliaran rupiah,” pungkasnya.

Sekretaris Indonesian Watercolour Society (IWS) Hanny Widjaja mengatakan, peserta Asian Watercolour Expression III-2016 di Bandung adalah negara Indonesia, Hongkong, Korea, Malaysia, Myanmar, Singapore, dan Philippines, “Sebenarnya kami juga mengundang pelukis cat air dari negara Iran, Irak, Bhutan, Thailand, Laos, Jepang, Nepal, dan India, namun mereka berhalangan hadir,” ungkap Hanny.

Lebih lanjut Hanny mengatakan, 65 seniman asing dan 55 seniman asal Indonesia akan memamerkan lukisan cat airnya di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), “Dari Indonesia ada 22 pelukis asal Bandung, 7 pelukis dari Bali, 24 pelukis asal Jakarta, dan pelukis asal Solo,” kata Hanny.

“Asian Watercolour Expression III-2016 juga akan memamerkan 10 lukisan para maestro yang telah meninggal,” pungkas Hanny.

Pelukis, Pengamat Seni dan Kebudayaan Herry Dim mengatakan, bagi kalangan seni rupa pameran Asian Watercolour Expression III-2016 sangat penting, “Karena dalam 10 tahun terakhir tidak ada pameran lukisan cat air di kota Bandung,” ujarnya.

“Sejak awal sudah terbayang dalam membicarakan seni lukis cat air dan teknik akuarel hampir tak mungkin tanpa membicarakan hal-hal yang bersifat teknik,” kata Herry, “Untuk sampai pada pemahaman serta apresiasi terhadap seni lukis cat air yang sifatnya khusus dan unik tidak ada jalan lain selain menempuh jalan pemahaman atas teknik-tekniknya,” ujarnya.

“Pameran Asian Watercolour Expression III-2016 di Bandung semakin berharga karena menampilkan karya maestro Indonesia seperti Barli Sasmitawinata, Srihadi Sudarsono, Siauw Tik Kwie, Abdullah Suriosubroto, Lee Man Fong, Azis Tirtaatmadja, Sunaryo, dan Dodo Abdullah,” kata Herry, “Mereka merupakan tonggak penting seni rupa,” tegasnya, “Banyak karya legenda mereka dijadikan koleksi oleh Bung Karno,” ujarnya.

Herry menyayangkan saat ini banyak pelukis yang meninggalkan seni lukis cat air, “Para pelukis balik kanan ke akrilik,” ungkapnya, “Seni lukis cat air agak merepotkan karena bila gagal harus mengganti kertas baru, tetapi
Akrilik bila gagal bisa ditutup,” ujarnya.

“Namun saat ini seni lukis cat air kembali menjadi trend, “Mungkin karena melemahnya kontemporer,” kata Herry.

Herry menegaskan, apabila seorang pelukis belum mampu menjinakkan dan menguasai teknik cat air dan sifat akuarelnya, maka ia belum bisa dikatakan sebagai seniman, “Teknik seni lukis cat air tingkat kesulitannya di atas rata-rata teknik lukis media lain,” ujarnya.

Herry mengatakan, sifat akuarel pada cat air diantaranya adalah Basuh dan Blabar (teknik basuh), Glazir (teknik basuh dengan sapuan tipis), Basah di atas basah (proses peneraan pigmen di atas kertas basah), Koas Kering (kebalikan teknik basah dan basuh), Mengangkat lepas, dan Meneteskan Warna.

“Kekuatan yang fasih dalam teknik seni lukis cat air dapat dilihat pada sejumlah lukisan figur seperti karya Tjandra Kirana, Huang Fong, Untoro, Hanny Widjaja, Min Wae Aung, dan yang menakjubkan karya Calvin Chua Cheng Koon,” pungkas Herry. (Bagoes Rinthoadi)