Boneka Horor The Doll Gentayangan di Kota Bandung

p_20161023_130946_ll

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Boneka Horor The Doll dipastikan akan ‘gentayangan’ di bioskop-bioskop yang ada di kota Bandung mulai 27 Oktober 2016.

Hal ini terungkap dalam Press Conference sekaligus nonton bareng film The Doll bersama Media Bandung, Minggu, (23/10/2016), di Empire XXI Bandung Indah Plaza (BIP) jalan Merdeka.

Turut hadir PR Promotion & Casting Director HitMaker Studios Dewi Yulia Razif, dan para pemain The Doll seperti, Shandy Aulia, Denny Sumargo, Sara Wijayanto, dan Demian Aditya.

“HitMaker Studios mencoba mengangkat cerita Urban Legend dari Bandung melalui film horor The Doll,” kata PR Promotion & Casting Director HitMaker Studios Dewi Yulia Razif di awal paparannya.

Lebih lanjut Dewi mengatakan, cerita film The Doll berdasarkan kisah nyata yang kejadiannya berlokasi di jalan Siliwangi Bandung, “Kisah nyata ini akan membuat koleksi para penggemar dan pecinta film horor semakin bertambah,” ujarnya.

Dewi mengungkapkan, proses syuting film The Doll 45 persen berlokasi di kota Bandung, “Kita memiliki narasumber yang banyak mengetahui tentang boneka yang bernama Ghawiah,” kata Dewi.

“Dari sekian banyak Urban Legend yang ada di Indonesia, akhirnya HitMaker Studios memilih boneka Ghawiah untuk dijadikan cerita dalam film The Doll karena lebih menarik dan lebih membumi,” kata Dewi.

p_20161023_131529_ll

“Dalam film The Doll Kita mengambil boneka yang cantik dan bukan yang seram seperti boneka Annabelle dan Chucky,” ungkap Dewi.

“Produser dan sutradara film The Doll Rocky Soraya bahkan mengatakan horor sudah menjadi bagian hidupnya,” ungkap Dewi, “Rocky dalam membuat film The Doll kadang tidak pegang skenario, karena memang bakatnya ada di film horor,” ujarnya.

“Film The Doll selain beredar di Indonesia, akan ditayangkan pula di Malaysia dan Brunei Darusalam,” pungkas Dewi.

Aktris cantik Shandy Aulia yang berperan sebagai Anya di film The Doll mengatakan, ia telah bermain film bersama Denny Sumargo di tiga film yang berbeda, “Kita sudah tahu karakter masing-masing,” ujar Shandy.

Lebih lanjut Shandy mengatakan, film The Doll yang proses syutingnya memakan waktu dua bulan bukan mengangkat sisi mistik, “Kami ingin mengubah konsep film horor yang dulu selalu dibumbui sex dan komedi,” tegasnya, “Film Horor sekarang konsepnya lebih jelas dan ada nilainya,” ujar Shandy.

Aktor Denny Sumargo yang berperan sebagai Daniel mengatakan, awalnya ia hampir tidak ikut di film The Doll, “Tadinya saya tidak tertarik main film horor lagi, namun saya ingin menyumbangkan sesuatu untuk perfilman Indonesia,” ujarnya.

“Produser dan sutradara film The Doll Rocky Soraya mempertaruhkan namanya dalam membuat film ini, dan saya mendukungnya,” kata Denny.

p_20161023_135702_vhdr_auto_1

Aktris Sara Wijayanto yang berperan sebagai Ibu Laras mengatakan, Rocky Soraya dalam menyutradarai film The Doll galak namun dalam artian bagus, “Rocky sangat tahu apa yang dia mau dan sangat detil,” ujarnya, “Rocky merupakan. Pengamat horor dan sangat suka film horor,” kata Sara.

Sara mengungkapkan, saat syuting film The Doll di adegan pemanggilan arwah, secara tidak sengaja dirinya merasa memanggil mahluk halus lainnya, “Punggung saya terasa tidak enak seperti ada yang memegang, namun saya terus melakukan syuting hingga selesai,” pungkasnya.

Film The Doll semakin menarik dengan kehadiran aktris Vitta Mariana sebagai Niken, dan Demian Aditya sebagai Bapak Dedi.

Film The Doll mengisahkan tentang sebuah pohon di jalan Siliwangi Bandung yang dipercaya penduduk setempat dihuni arwah seorang anak bernama Uci yang hidup di dalam boneka bernama Ghawiyah.

Ketegangan dalam film The Doll dimulai ketika Daniel yang diperankan Denny Sumargo memerintahkan anak buahnya menebang pohon yang biasa menjadi tempat bergantung boneka Ghawiyah untuk dijadikan perumahan.

Alhasil boneka Ghawiyah dan arwah anak kecil bernama Uci menghantui pasangan Daniel dan Anya sepanjang hari.

Namun patut dicatat film The Doll tidak cocok ditonton oleh anak-anak kecil karena penuh adegan kekerasan dan berdarah-darah, namun film ini sangat menegangkan dan patut diacungi jempol. (Bagoes Rinthoadi)