Independent Music Conference Masa Depan Musik Indonesia

img_20161126_082628

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Penyelenggaraan Independent Music Conference (IMC) 2016, Sabtu, (26/11/2016), di Bandung City Hall (Balai Kota) jalan Wastukencana Bandung, dipastikan akan menentukan masa depan ekosistem musik Indonesia pada umumnya dan Kota Bandung pada khususnya.

“Independent Music Conference (IMC) diselenggarakan dalam upaya mengidentifikasi tantangan dan menyusun strategi dalam memperkuat dan melengkapi ekosistem industri musik, terutama Kota Bandung,” kata Founder & Program Director IMC Robin Malau saat Press Conference, Jumat, (25/11/2016), di Simpul Space #3/BCCF jalan Taman Cibeunying Selatan No.5 Bandung, turut hadir Ketua Bandung Creative City Forum Fiki Satari, dan Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kota Bandung Tita Larasati.

Lebih lanjut Robin Malau yang merupakan gitaris dan pendiri Band Hard Core “Puppen” mengatakan, pengertian mendalam mengenai cara mengembangkan ekosistem musik yang tepat adalah dengan hal yang krusial, “Masalah ini perlu ditelaah dengan lebih serius dan menyeluruh,” ujarnya.

“Saat ini Kota Bandung telah resmi menjadi anggota Jejaring Kota Kreatif UNESCO Creative Cities Network atau UCCN dalam bidang desain sejak 11 Desember 2015 ,” ungkap Robin, “Dalam status tersebut Kota Bandung wajib memenuhi komitmennya sebagai Kota Desain Dunia, yaitu memanfaatkan kreativitas untuk meningkatkan kesejahteraan warganya,” ujarnya.

“Sub sektor desain di Kota Bandung telah menjadi penarik bagi sub-sub sektor lainnya untuk berkembang bersama seperti musik dan kuliner,” kata Robin, “Dengan situasi seperti itu ekosistem ekonomi kreatif di kota Bandung menjadi dinamis dan memiliki karakteristik tersendiri,” ujarnya.

“Kota Bandung saat ini banyak menghasilkan musisi, dan bisa dikatakan ekspor terbaik dari Bandung ke daerah-daerah lain adalah musik,” kata Robin.

“Fenomena di kota Bandung adalah musik independent,” kata Robin, “Tujuan diadakannya IMC 2016 adalah mempertanyakan fenomena musik independen,” ungkapnya, “Bagaimana kita membuat musik independent menjadi sustain seperti matahari, dan bukan seperti gerhana matahari,” ujarnya.

“IMC 2016 berupaya ke depannya mendorong pemerintah kota Bandung membuat gedung pertunjukan baru, yang nantinya dapat memunculkan Band-Band Baru dan mendatangkan turis musik ke kota Bandung,” tegas Robin.

img_20161126_082631

“IMC 2016 akan menghadirkan 20 pembicara dengan latar belakang yang berbeda- beda namun tetap membahas sisi musik, seperti pendidikan musik, infrastruktur fisik, dan non fisik yaitu mental dan hak cipta,” kata Robin.

“Setelah penyelenggaraan IMC 2016, ke depannya bagaimana kita masuk ke dunia internasional, untuk itulah kami membawa para ahli di bidang ekosistem musik dari Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand, Kita juga mengajak pembicara dari Liverpool Inggris,” ujarnya.

Robin menegaskan di dunia musik kuncinya adalah Networking atau jejaring, “Contohnya Showcase Festival, di sana yang hadir diantaranya, Buyer, Artist Management, Booking Agency, dan Record Label yang siap membawa musisi baru untuk dibawa ke Amerika dan Australia,” ujarnya, “Showcase Festival merupakan festival kelas dunia dan ada perwakilan 40 negara yang datang, maka musisi dan komunitas musik di Kota Bandung melalui IMC 2016 akan kita arahkan ke Showcase Festival,” tegasnya.

“Kesalahan kita adalah suka membawa musisi besar ke festival-festival musik, seharusnya mereka dikirim ke Showcase Festival,” kata Robin, “Namun suatu saat sistem Showcase Festival akan kita bawa ke Indonesia,” ujarnya.

Mengenai tidak hadirnya para musisi di IMC 2016, Robin mengungkapkan, para musisi tidak mau musik di formalisasi, “Kebanyakan musisi tidak mau seminar, mereka maunya langsung main musik,” ungkap Robin, “Padahal IMC memperjuangkan dan menentukan masa depan ekosistem musik,” tegasnya.

Robin mengungkapkan, saat ini Band asal Indonesia yang manggung di luar negeri seperti, Homogenic The Sigit, Burgerkill, Jasad, dan Dead Squad, kebanyakan kerja sendiri, “Pemerintah bisa saja membantu karena punya kepentingan, tapi tidak nyambung, karena dunia musik paling susah ‘diulik’ “,pungkas Robin.

IMC 2016 yang berlangsung, Sabtu, (26/11/2016), di Bandung City Hall (Balai Kota) jalan Wastukencana Bandung, menampilkan 5 diskusi panel yang berisi para ahli dari berbagai bidang yang berhubungan dengan pembangunan ekosistem musik, dan dua presentasi eksklusif.

Turut hadir 100 delegasi eksklusif, seperti elemen pemerintahan, industri, masyarakat, komunitas musik, dan akademisi.

Diskusi panel akan membahas tema, peran musik dalam kota kreatif, pendidikan musik, infrastruktur fisik dan non fisik, jejaring antar kota kreatif, dan membangun ekosistem musik yang berkelanjutan, selain itu ada dua presentasi eksklusif membahas mengenai kota kreatif dan pemetaan aset musik di kota kreatif. (Bagoes Rinthoadi)