Eka Santosa: Terbukti Jawa Barat Darurat Lingkungan

img_20161129_024530

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Ketua Umum DPP Gerakan Hejo Eka Santosa mengatakan, Gerakan Hejo satu tahun yang lalu (2015) telah menegaskan Jawa Barat Darurat Lingkungan, dan saat ini (2016) terbukti begitu banyak bencana terjadi di Jawa Barat.

Hal ini ditegaskan Eka Santosa di acara Satu Tahun Gerakan Hejo dan Memperingati Hari Pohon Sedunia, Sabtu, (26/11/2016), di Alam Santosa Eko Wisata Budaya Pasir Impun Kabupaten Bandung.

Turut hadir, Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat Iwa Karniwa, Ketua Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat Anang Sudharna, dan Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum.

“Di luar anomali cuaca ekstrim pada akhir 2016 di Jawa Barat, Gerakan Hejo bersama masyarakat adat yang tergabung di Baresan Olot Masyarakat Adat (BOMA) Jabar, terus bertindak, mengingatkan, dan menjaga keseimbangan alam di Jawa Barat,” kata Ketua Umum DPP Gerakan Hejo Eka Santosa di awal paparannya, “Perhatikan kearifan lokal,” tegasnya.

Lebih lanjut Eka mengatakan, Gerakan Hejo terus mengajak berbagai komponen, terutama masyarakat untuk menjaga lingkungan di Jawa Barat, “Penyelesaian lingkungan yang paling efektif dan cepat adalah melalui pendekatan budaya,” kata Eka, “Indung bumi bapa langit, ada mahluk eling, mahluk nyaring, dan mahluk cicing, ketiga komponen tersebut harus seimbang,” ujarnya.

img_20161129_024538

“Hutan rusak, dipastikan rakyat akan balangsak atau susah, No Forest, No Water No Future,” kata Eka, “Gerakan hejo visinya kearifan lokal, karena tanpa hijau kita tidak punya air bersih, tanpa air bersih, kita tidak punya kehidupan,” ujarnya.

“Sekarang bencana makin menjadi-jadi di Jawa Barat, maka jangan sekali-kali menyalahkan alam, tetapi salahkan diri sendiri, karena kita sendiri yang keluar dari adat istiadat,” ungkap Eka.

Eka menegaskan, kondisi lingkungan di Jawa Barat tidak lepas dari visi, misi, dan orientasi kepemimpinan, “Gerakan Hejo tidak salah memprediksi satu tahun lalu Jawa Barat darurat lingkungan, dan hal tersebut terbukti di Garut ketika terjadi banjir bandang,” kata Eka.

Lebih lanjut Eka mengatakan, pihaknya bukan tidak percaya kepada birokrasi, “Tapi sungguh miris dan menggelikan ketika Kepala BPLHD Jawa Barat Anang Sudharna secara eksplisit angkat tangan dan akan mendemo pemerintah terkait masalah Pabrik Kahatex,” kata Eka, “Berarti Kepala BPLHD Jabar tidak berdaya, ini kondisi yang sangat mengkhawatirkan, padahal rakyat bila ada bencana selalu mengadu kepada BPLHD,” ujarnya.

“Betapa hebatnya Kahatex sebagai industri bisa menyetop perjalanan jalan nasional,” ungkap Eka, “Sudah banyak korban akibat Kahatex, belum lagi dari pencemarannya,” ujarnya.

img_20161129_024534

Mengenai janji Sekda Jabar akan menaikan anggaran untuk lingkungan, Eka menegaskan, Gerakan Hejo tidak akan terpaku terhadap hal tersebut,
“Ada program penanaman satu miliar pohon, jangan-jangan hanya kuitansi saja,” kata Eka, “Misalkan dikatakan 10.000 pohon ditanam, tetapi berapa yang sebenarnya yang ditanam, tanaman yang hidup berapa, jadi jangan pakai angka-angka tapi harus fakta,” tegasnya.

Diakhir paparannya Eka mengatakan dirinya akan kembali ke hutan, “Siapapun yang merusak hutan akan kita lawan, dan kita ingin dengan kekuatan semesta yaitu masyarakat,” pungkasnya.

Acara Satu Tahun Gerakan Hejo dan Memperingati Hari Pohon Sedunia yang dimeriahkan oleh seniman sekaligus budayawan Doel Sumbang, diwarnai penganugerahan bagi kelompok dan perseorangan dalam kategori pejuang lingkungan.

Gerakan Hejo memberikan penghargaan kepada Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), karena sejak 2001 DPKLTS melalui kajian dan praktik di bidang kehutanan dan budaya telah mewarnai penyadaran pentingnya nilai-nilai keseimbangan alam, dan revitalisasi Gerakan Gandrung Tatangkalan di tahun 2016 disambut positif masyarakat Jawa Barat.

Gerakan Hejo juga memberikan penghargaan kepada Walhi Jabar, Wanadri, Didin “Penyu” dari Batu Hiu Kabupaten Pangandaran, Pejuang Lingkungan Sariban, serta pelestari dan pengembang kertas dari Daluang Ahmad Mufid Sururi dari Laboratorium Toekang Saeh. (Bagoes Rinthoadi)