Selasar Sunaryo Tampilkan Cooking Face Karya Enora Lalet

20170224_202118-1

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) bekerjasama dengan Institut Francais Indonesia (IFI) Bandung menggelar Pameran tunggal Residensi Enora Lalet seorang seniman wanita asal Prancis yang mendayagunakan bahan makanan sebagai material dalam karya-karyanya.

Pembukaan Pameran Tunggal Residensi Enora Lalet yang berkolaborasi dengan Matthias Lothy bertajuk “Tata Boga”, berlangsung, Jumat malam, (24/2/2017), di Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) jalan Bukit Pakar Timur No.100 Bandung.

Turut hadir Pemilik Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) Sunaryo, Direktur Institut Francais Indonesia (IFI) Bandung Melanie Martini-Mareel, dan Penulis Pameran Chabib Duta Hapsoro.

“Sebelum pameran ini berlangsung, saya difoto oleh Enora lebih dari 300 frame untuk kepentingan pameran,” kata Pemilik Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) Sunaryo dalam sambutannya.

Sunaryo mengatakan, Enora datang ke tempatnya untuk menyentuh lidah dan mata para pengunjung pameran, “Enora mengerjakan pameran ini dengan sungguh-sungguh,” ujar Sunaryo.

“Selain Enora yang asal Prancis, sudah ada seniman dari Inggris, Polandia, Korea, Australia, dan Filipina yang berpameran di sini,” ungkap Sunaryo, “Dalam waktu dekat akan ada pula seniman asal Singapura yang akan datang ke tempat kami,” pungkas Sunaryo.

20170224_200511-1

Direktur Institut Francais Indonesia (IFI) Bandung Melanie Martini-Mareel mengatakan, pihaknya akan selalu memberi support kepada seniman-seniman muda seperti Enora Lalet, “IFI selalu men-support Young Generation Artist,” ujarnya.

Lebih lanjut Melanie mengatakan seniman muda seperti Enora selalu menganggap dunia (World) seperti a Giant Playground.

Melanie mengungkapkan Enora dalam karyanya selalu menggunakan bahan-bahan makanan lokal, “Pastinya Enora sangat Prancis,” pungkas Melanie.

Seniman asal Prancis Enora Lalet mengatakan, kuliner adalah dunia yang menarik, “Kita makan bukanlah sembarang makan, tapi makanan tersebut memiliki arti,” kata Enora, “Saya melihat es campur bagaikan pelangi dan jajanan pasar seperti mainan yang memanjakan mata,” ujarnya.

“Saya mempersembahkan fotografi kuliner karya saya untuk Indonesia, karena negara ini penting dan merupakan bagian dari hidup saya,” kata Enora, “Saya ingin menyuguhkan campuran budaya indonesia yang akan membuka panca indera kita,” ujarnya.

“Saat ini kondisi Indonesia sedang berubah, namun Indonesia jangan melupakan semboyan Bhinneka Tunggal Ika,” pungkas Enora.

20170224_201101-1

Penulis Pameran Chabib Duta Hapsoro mengatakan, Enora Lalet setelah bekerja dengan tema makanan, akhirnya mulai menemukan bentuknya pada seri karya Cooking Faces, yaitu foto-foto potret model dengan asesoris berbahan makanan.

“Praktik artistik Enora Lalet melintas batas antara seni rupa, adi boga dan adi busana,” kata Chabib, “Enora Lalet telah mengunjungi banyak kota di dunia untuk residensi, berpameran dan mencecap beragam rasa makanan,” ujarnya, “Bahkan Enora Lalet ikut ambil bagian dalam pembuatan buku seni memasak untuk anak dan sejumlah festival gastronomi di
Prancis,” ungkap Chabib.

“Dalam residensi di Selasar Sunaryo Art Space, Enora Lalet melanjutkan seri Cooking Faces dengan mendayagunakan bahan makanan mentah lokal ataupun jadi,” kata Chabib, “Seri karya ini memperlihatkan pertukaran budaya gastronomi khas Prancis dengan kuliner keseharian Indonesia,” ujarnya.

“Enora Lalet juga menampilkan cairnya batasan asosiasi antara rasa, tekstur, rasa dan aroma makanan yang merepresentasikan berlangsungnya proses pembentukan selera,” kata Chabib.

Chabib menegaskan karya-karya fotografi Enora Lalet dalam pameran di Selasar Sunaryo memperlihatkan ‘rasa’ yang merupakan konstruksi sosial sebagai konsekuensi proses diplomasi ataupun pertarungan kebudayaan yang berlangsung lama.

“Judul Tata Boga dipilih sebagai terjemahan istilah Gastronomy, yaitu sebuah studi mengenai hubungan antara budaya dan makanan,” ungkap Chabib, “Secara khusus Gastronomy disebut sebagai seni mempersiapkan
makanan secara indah dan sehat untuk membangkitkan selera makan,” ungkapnya.

20170224_204105-1

“Gastronomy menjadi bidang kajian atau wilayah studi yang setara dengan seni
rupa atau fine art yang mempresentasikan kehalusan akal budi manusia,” kata Chabib.

“Melalui pameran ‘Tata Boga’ Enora mengajak kita untuk merenungkan kembali ‘makan’ sebagai sikap budaya yang beradab yang mempertimbangkan kebaikan seluruh makhluk hidup dan alam yang menaunginya,” pungkas Chabib.

Enora Lalet menyelesaikan pendidikan Master Degree II Arts di University Michel Montaigne Bordeaux III (2011), dan Master Degree I Sociology di University Victor Segalen Bordeaux II (2010).

Enora Lalet dalam pameran ‘Tata Boga’di Selasar Sunaryo menyertai proyek seni berbasis lokakarya dengan mengundang sejumlah seniman muda dan mahasiswa seni Bandung yang berlatar belakang beragam jurusan seperti seni rupa, kriya tekstil, fesyen dan desain produk.

Proyek seni berbasis lokakarya berjudul /ɡɔːrˈmeɪ/, diikuti oleh Adityo Sunarya, Tasia Sugiyanto & Ayda Khadiva, Elan Budikusumah, Megumi Nurul Aini, Sabrina Salma & M. Ilham Akbar dan Yoshara Eltyar.

Pameran Tunggal Residensi Enora Lalet ‘Tata Boga’ yang berkolaborasi dengan Matthias Lothy berlangsung mulai 24 Februari hingga 19 Maret 2017 di Ruang B dan Ruang Sayap Selasar Sunaryo Art Space jalan Bukit Pakar Timur No.100 Bandung. (Bagoes Rinthoadi)