Gaya Busana Kebaya Enam Ibu Negara

20170329_132214-1

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Dosen Prodi Pendidikan Tata Busana JPKK FPTK Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Suciati,S.Pd.,M.Ds membahas gaya berbusana enam Ibu Negara RI di acara Diskusi Santai di Rabu Nyunda bertajuk, “Kebaya dan Peran Perempuan Sebagai Pemelihara Budaya”, Rabu, (29/3/2017), di Braga Art Cafe jalan Braga Bandung.

Suciati yang kini sedang menempuh pendidikan Doktoral di ITB, mengamati gaya berbusana Ibu Negara RI Fatmawati (Istri Soekarno), R.Ay. Siti Hartinah (Istri Soeharto), Hasri Ainun Besari (Istri BJ Habibie), Sinta Nuriyah (Istri Abdurrahman Wahid), Kristiani Herrawati (Istri Susilo Bambang Yudhoyono), dan Iriana Joko Widodo (Istri Joko Widodo).

“Gaya berbusana nasional Fatmawati ditunjukkan dengan cara memakai kerudung yang menjuntai panjang,” kata
Suciati di awal paparannya, “Sedangkan gaya busana Siti Hartinah atau Ibu Tien bersifat energik dan formal dengan ciri khas model kebaya kutubaru atau beff, dan selendang yang disilangkan di bagian dada, dan disimpulkan di bagian pinggang,” kata Suciati.

Lebih lanjut Suciati mengatakan, gaya berbusana Hasri Ainun terlihat sederhana dan formal, “Sedangkan gaya busana nasional Sinta Nuriyah mempunyai ciri khas kerudung bersiluet O sampai menutup dada,” ungkapnya, “Untuk Kristiani Herrawati, menampilkan dengan berbagai variasi model kebaya Landung,” kata Suciati.

Suciati mengungkapkan, busana nasional ada beberapa jenis, “Ada busana nasional jenis kemben, baju bodo, baju kurung, dan busana kebaya,” kata Suciati.

Suciati mengatakan, kebaya berasal dari berbagai negara, “Kebaya ada yang berasal dari Cina di jaman Kaisar Ming, dari Arab sejak abad ke-14, dari bangsa Persia (Cabie), dari bangsa India di kota Cambaia, dari bangsa Portugis (abad ke-16), dan Belanda (abad ke-18).

20170329_122833

“Gaya berbusana kebaya ada bermacam-macam, yaitu gaya kebaya adati, gaya kebaya etnik nusantara, gaya kebaya nasional, dan gaya kebaya temporer,” ungkap Suciati, “Untuk teknik berbusana kebaya, ada teknik adopsi gaya, teknik adaptasi gaya, dan teknik adeptesi gaya,” ujarnya.

Mengenai gaya berbusana kebaya saat ini, Suciati mengatakan, tidak ada yang mampu membendung tren, “Gaya busana kebaya tergantung minat dan selera masyarakat,” ujarnya, “Kebaya pun bisa syar’i, namun jangan dimaknai lain,” kata Suciati.

“Desain kebaya dapat dikreasikan dengan tambahan detail dan kerudung, sehingga semua kalangan tetap bisa berkain dan berkebaya,” kata Suciati.

“Jaman dulu pemakaian kebaya memang ada strata sosial, contohnya kebaya priyayi untuk upacara adat, namun sekarang, kebaya tergantung harga, dan masyarakat mau pakai atau tidak,” kata Suciati.

“Saat ini kebaya mengalami pergeseran fungsi, padahal kebaya sebagai kostum bisa digunakan sebagai busana sehari-hari,” kata Suciati, “Kostum tradisi mempunyai faedah mendidik karakter perempuan,” pungkasnya.

Hingga saat ini Pemerintah Kota Bandung setiap hari Rabu menerapkan Rebo Nyunda berdasarkan Peraturan Walikota Bandung Tentang Pemakaian Busana Tradisional Sunda, yang diterapkan adalah setiap Rabu memakai iket Sunda, Pangsi, Kebaya, dan Berbahasa Sunda.

Rabu Nyunda awal diterapkan sejak 6 November 2013, bertujuan agar tercipta keberpihakan pada Peraturan Daerah (Perda) tentang kebudayaan Sunda. (Bagoes Rinthoadi)