Pemuda Pancasila P2W Indonesia Timur Pupuk Jiwa Nasionalisme Kader Baru di Papua

ARCOM.CO.ID ,Depok. Ketua Pemuda Pancasila (PP) Bidang Pembinaan dan Pemberdayaan Wilayah (P2W) Indonesia Timur Raden Mas Mochammad Bintang Prabowo, S.H., M.Si., (Han), berkesempatan menyampaikan amanat dari Ketua Umum MPN Pemuda Pancasila Kanjeng Pangeran Haryo Japto Soelistyo Soerjosoemarno di sela-sela Rapat Pleno I dan Rakor MPN Pemuda Pancasila, Jumat, (2/4/2021), di Hotel Bumi Wiyata, Depok.

“Sekalipun realitas masa kelam semakin memburamkan harapan hidup rakyat di Papua dalam bingkai Negara kesatuan Republik Indonesia, namun kami berkeyakinan saudara-saudara kita di Papua dan Papua Barat sebenarnya masih menaruh harapan besar ingin tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari NKRI,” kata Ketua Umum MPN Pemuda Pancasila melalui Ketua PP Bidang P2W Indonesia Timur.

“Saudara-saudara kita di Papua harus diyakinkan dan dibangkitkan rasa pecaya dirinya untuk bangga menjadi orang Indonesia, caranya bukan sekedar membangun dialog dan janji-janji surga, tetapi tindakan konkret, inilah yang mendasari mengapa Pemuda Pancasila perlu terlibat,” tegas Ketua Umum MPN Pemuda Pancasila melalui Ketua PP Bidang P2W Indonesia Timur.

“Kami ingin berkontribusi membangun Indonesia Timur demi kepentingan nasional sekaligus menguatkan kembali nilai-nilai nasionalisme di tanah berjuluk Bumi Cendrawasih,” kata Ketua Umum MPN Pemuda Pancasila melalui Ketua PP Bidang P2W Indonesia Timur.

Seusai menyampaikan amanat Ketua Umum MPN Pemuda Pancasila Kanjeng Pangeran Haryo Japto Soelistyo Soerjosoemarno, Ketua Pemuda Pancasila (PP) Bidang Pembinaan dan Pemberdayaan Wilayah (P2W) Indonesia Timur Raden Mas Mochammad Bintang Prabowo yang juga mantan Sekjen DPP KNPI periode 2011-2014 bercerita banyak hal tentang Papua dan upayanya merekrut kader-kader baru Pemuda Pancasila.

Krisis kepemilikan bangsa ini berawal di Indonesia timur, mereka tidak pernah merasa memiliki karena ada History yang menyatakan bahwa mereka bukan bagian dari NKRI, mereka beranggapan apa sih istimewanya menjadi orang Indonesia,” kata Raden Mas Mochammad Bintang Prabowo atau biasa di sapa Mas Bintang.

“Kenapa terlontar ungkapan seperti itu?, karena dalam Sumpah Pemuda mereka tidak pernah merasa dilibatkan, ini bicara sejarah,” ungkap Mas Bintang.

“Akhirnya sempat nama Irian Barat ikut Republik Indonesia Anti Nederland, namun mereka dipaksa ikut tanpa punya dasar psikologis yang mereka rasa dan mereka fikir,” kata Mas Bintang, “Kami kan bukan bagian dari Indonesia, kenapa kami harus terima itu?, itukan reasonable yang coba mereka ungkapkan,” ujarnya.

“Tapi ada fakta sejarahnya juga, Sekolah Dasar pertama di sana siapa yang membuat, Universitas Cendrawasih pertama di sana siapa yang buat? Putra Republik Indonesia, Bung Karno kan?, nah itu artinya kita ikut berkontribusi membangun karakter mereka di sana,” ungkap Mas Bintang.

Jadi suka tidak suka, mau tidak mau, sekarang mutlak dan tuntas, mereka bagian dari kita, NKRI,” tegas Mas Bintang.

“Nah ini yang harus kita endors, kita dukung, dan harus kita rawat, mereka harus kita berikan pemahaman tentang kepemilikan terhadap bangsa ini bahwa mereka adalah bagian dari kita, itu yang harus kita dukung,” kata Mas Bintang.

“Nah kita juga perlu ingatkan mereka, You orang-kan bagian dari Indonesia, You orang satu kesatuan wilayah lho wilayah NKRI, You orang bagian dari kita, itu yang harus kita berikan pemahaman lagi,” kata Mas Bintang.

“Pekerjaan yang seperti ini kelihatannya mudah, tapi kalau tidak di dikemas dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan baik, akan menimbulkan kesan otoriter,” ungkap Mas Bintang, “Kuncinya adalah pendampingan, pendekatan dari hati, dan empati,” ujarnya.

“Kita perlu banyak stakeholder yang berperan untuk itu sebab ketika elemen Pemerintah yang bergerak, ada ketidak percayaan dan ketakutan yang dirasakan oleh orang Papua, itu faktanya,” ungkap Mas Bintang, “Itulah yang mendasari Pemuda Pancasila perlu terlibat di sana,” tegasnya.

“Mengapa, karena Organisasi Kemasyarakatan tugasnya memang sosial kontroling, ikut mengendors, ikut memberikan edukasi tanpa harus formil, melalui kekeluargaan juga bisa dilakukan,” kata Mas Bintang.

“Jadi bagi kami, di Indonesia Timur, Papua dan Papua Barat harus menjadi sebuah lapangan Exercised bagi kader Pemuda Pancasila untuk bisa melakukan yang terbaik bagi bangsa ini,” kata Mas Bintang.

Lebih lanjut Mas Bintang mengatakan, sejak awal sejarah Papua memang tak mulus, penentuan status Papua Barat antara Indonesia dan Belanda sudah menjadi problema sejak lama dan terus berlarut-larut bahkan hingga pergantian rezim di tanah air.

“Dengan kondisi itu, perlu kajian medalam untuk Papua, dan tentunya kita perlu mapping agar keberadaan Pemuda Pancasila bisa mereka rasakan manfaatnya,” kata Mas Bintang.

“Bukan kita ujug-ujug langsung menunjukan ini Pemuda Pancasila lho, You harus terima kalau di pulau Jawa seperti ini, kalian yang di Papua juga harus bisa seperti yang di pulau Jawa ya,” kata Mas Bintang, Ya tidak bisa kita pukul rata seperti itu,” ujarnya.

“Belum tentu yang di Jawa sama dengan yang di Papua, belum tentu yang di Jawa, di Kalimantan sama dengan yang di NTT atau yang di wilayah lainnya,” ungkap Mas Bintang, tapi bagaimana mereka tertarik dulu ingin bergabung dengan kita, itu dulu kuncinya,” ujarnya.

“Contohnya dengan kegiatan-kegiatan non formal yang tidak mungkin semua Ormas bisa masuk ke sana,” kata Mas Bintang.

“Misalnya dengan NU, FKPPI, atau ormas-ormas lainnya, mungkin terbatas juga, tetapi Pemuda Pancasila ormas yang sangat general yang anggotanya dari lapisan apapun, agama apapun, semua orang bisa ikut terlibat, bisa ikut bergabung dalam sebuah kegiatan positif,” kata Mas Bintang.

“Itu inti pesan yang menjadi dasar mengapa kita ingin berkontribusi membangun Papua,” tegas Mas Bintang.

“Jadi, jika Pemuda Pancasila mau melakukan itu, mau terlibat di wilayah itu, tentunya dengan program-program yang sekiranya tidak perlu harus berat,” ungkap Mas Bintang, “Tidak perlu harus mengatakan, kita PP, kita Pancasilais, kita Patriotik,” ujarnya.

“Tapi bagaimana kita memberikan kepada teman-teman di Indonesia Timur keleluasaan, ke-fleksibelitasan yang tinggi, minimal mau bergabung dulu dengan kita, mau bersama dengan kita, mau melakukan kegiatan yang positif dengan kita dalam wadah yang jelas, Merah-Putih, Itulah dasar kearifan lokalnya,” ungkap Mas Bintang.

“Jadi kehadiran PP disana bukan sebagai OKP, tetapi hadir sebagai ormas, dan ormas ini harus bicara Ipoleksosbud Hankamrata yang semua itu ujungnya Nasional interest, kepentingan nasional, dan menjadikan Indonesia Timur itu bagian dari kita, tanpa harus ada pengkotak-kotakan yang menyekat pemikiran mereka, itu kepentingan nasionalnya,” kata Mas Bintang.

“Kita bangun Sense of belongingnya, ketika mereka sudah merasa memiliki dan tahu bahwa ada ornamen-ornamen pemerintahan di sana, apakah itu Balai Warga, Kecamatan, atau simbol-simbol Pemerintahan lainnya yang semua itu adalah simbol negara, itulah milik kita, milik Indonesia yang harus dijaga,” kata Mas Bintang.

“Mereka juga harus diberikan pemahaman bahwa semua itu merupakan fasilitas publik yang bisa mereka gunakan, dan Pemerintah juga harus bisa memberikan peluang kepada mereka untuk bisa dimanfaatkan sebagai kepentingan publik,” kata Mas Bintang.

“Sekarang bagaimana masyarakat tidak kecewa mereka mau menggunakan saja dilarang, bahkan ingin menjadi Pegawai Negeri saja susah, ini problem yang kalau tidak ditangani serius, efeknya akan menjadi bom waktu, merdeka bukan cuma persoalan ideologi, tapi juga terpenuhi atau tidak terpenuhinya kebutuhan dasar,” tegas Mas Bintang.

“kondisi seperti ini harus kita endors, kita harus berikan pemahaman yang berbeda, kebijakan yang mungkin extraordinary,” kata Mas Bintang.

“Jadi upaya kita yang ada di kepengurusan nasional, khususnya P2W ini memberikan pengetahuan dasar dan sederhana, apa itu Pemuda Pancasila,” kata Mas Bintang.

“Karena kalau terlalu berat mencerna apa itu Pemuda Pancasila, lalu setelah bergabung, mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat, itu percuma saja,” kata Mas Bintang.

“Karena itu kita rubah paradigmanya, kita ingin membuat suatu yang sederhana, ringan, tapi efeknya tertarik dengan Pemuda Pancasila dan bermanfaat bagi diri, keluarga, juga masyarakatnya,” kata
Mas Bintang.

“Melalui apa?, ya melalui kegiatan-kegiatan non formal tapi memberikan mereka edukasi, memberikan pengetahuan yang lebih terhadap lingkungan sekitar yang mungkin mereka belum tahu karena keterbatasan sumber informasi,” kata Mas Bintang.

“Setelah itu baru melakukan kaderisasi berupa pendidikan karakter, nasionalisme dan kebangsaan, kemudian kita bina dan kita didik melalui kompetensinya masing-masing sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya sebagai modal dirinya untuk membangun masa depannya,” kata Mas Bintang.

“Itulah tugas kami Pemuda Pancasila P2W Indonesia Timur saat ini, dengan harapan target 10 juta kader Pemuda Pancasila tercapai di tahun 2024,” pungkas Mas Bintang. (AGS/GDN/BRH)