Ketua Yayasan ECO Bambu Cipaku Andriyas Wihardja Meninggal Dunia

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Ketua Yayasan ECO Bambu Cipaku Andriyas Wihardja atau biasa disapa Ko Wiwih meninggal dunia karena sakit, Jumat, (14/5/2021), pukul 10 pagi di RS Santosa Bandung Central, jalan Kebon Jati Bandung.

Ko Wiwih yang merupakan Ketua Perguruan Pencak Silat Riksa Diri Orpesi menghembuskan nafas terakhir karena ada masalah di jantung dan paru-parunya.

Jenazah Ko Wiwih kemudian dikremasi Jumat sore, (14/5/2021), kemudian abunya oleh pihak keluarga akan di larung di Pantai Pangandaran, Sabtu, (15/5/2021).

Anak didik Ko Wiwih bernama Gerri Cahyadi ketika ditemui Jumat malam, (14/5/2021), di Saung Kemangi The Cipaku Garden Hotel jalan Cipaku Indah X No.2-4 Setiabudi Bandung seusai doa bersama mendoakan Alm Ko Wiwih mengatakan, Ko Wiwih sebelum meninggal badannya memang kurang fit.

“Kita waktu itu sempat ke Jakarta dan Ko Wiwih mengeluh kurang enak badan, dan kurang fit, lalu setelah kembali ke Bandung masih terlihat biasa, namun terlihat Ko Wiwih terlihat sakit tetapi Ko Wiwih tidak mau terlihat sakit di depan orang,” ungkap Gerri.

“Ko Wiwih diminta oleh keluarga untuk ke dokter tetapi tidak mau, kemudian kita pergi lagi ke Jakarta bersama Ko Wiwih karena ada suatu keperluan, dan memang keberangkatan terakhir ke Jakarta Ko Wiwih terlihat agak sakit, kemudian kita kembali ke Bandung, dan akhirnya pihak keluarga memaksa Ko Wiwih ke Rumah Sakit Santosa untuk dirawat, akhirnya Ko Wiwih mau dirawat,” kata Gerri.

“Ko Wiwih memang dahulu perokok berat, melatih beladiri pun sembari merokok, dan setelah diperiksa di RS Santosa ternyata Ko Wiwih ada masalah di jantung dan paru-parunya dan akhirnya Ko Wiwih harus dirawat di RS Santosa,” ungkap Gerri.

“Ko Wiwih sebelum meninggal dunia sempat dirawat di RS Santosa selama satu minggu, dan Ko Wiwih sempat WhatsApp ke kita Senin, 10 Mei 2021, dan sempat update status, karena Ko Wiwih merupakan Pelatih Kepala Muay Thai Kabupaten Bandung,” ungkap Gerri.

“Namun karena Ko Wiwih sering main HP di rumah sakit, akhirnya HP diamankan oleh suster, akhirnya Ko Wiwih dua hari terakhir tidak bisa berkomunikasi lewat HP, kemudian pada Kamis, 13 Mei 2021 kondisi Ko Wiwih memburuk, namun Jumat Pagi 14 Mei 2021 pukul 7 pagi kondisi Ko Wiwih sempat membaik, tetapi pukul 9 pagi kita dan keluarga diminta ke rumah sakit, dan akhirnya Jumat, 14 Mei 2021 pukul 10 pagi Ko Wiwih dinyatakan meninggal dunia,” ungkap Gerri.

“Pastinya Ko Wiwih meninggal dunia bukan terinfeksi virus Covid-19, tetapi memang ada masalah di jantung dan paru-parunya,” ungkap Gerri.

“Akhirnya jenazah Ko Wiwih Jumat sore dikremasi oleh pihak keluarga, dan rencananya abu Ko Wiwih akan di bawa ke Pantai Pangandaran untuk dilarung,” ungkap Gerri.

Lebih lanjut Gerri mengungkapkan,
Pesan terakhir Ko Wiwih kepada para anak didiknya yaitu terus berlatih bela diri di padepokan, ada saya tidak ada saya latihan silat harus terus berjalan, jangan sampai berhenti, lanjutkan, harus diteruskan, bahkan Ko Wiwih sempat membuat kata-kata, “Ulah Atuda tapi kedah Sanajan, ari Atuda mah loba mengeluh, lamun Sanajan mah Sanajan teu bisa, Sanajan Hese, Sanajan teu boga, tapi tiasa dilalui,” ungkap Gerri.

“Karena Ko Wiwih merupakan Pelatih Muay Thai Kabupaten Bandung, pesan Ko Wiwih adalah, antarkan anak-anak sampai ke podium tertinggi di Porda pada November 2021,” ujar Gerri.

“Kebetulan Mei 2021 anak-anak sudah TC dan dilatih Ko Wiwih selama satu tahun, dan sahabat Ko Wiwih ibu Luciana mengatakan, apa pesan Bapak, apa kesukaan Bapak, apa yang Bapak inginkan lanjutkan, jangan sampai tidak dilakukan, saya dukung semuanya, karena kalau saya tidak mendukung, saya berdosa,” ungkap Gerri.

Gerri menambahkan, yang berkesan dari Ko Wiwih adalah, Ko Wiwih tidak bisa marah secara langsung, Ko Wiwih tidak pernah membentak kepada anak didiknya, tetapi sekalinya bicara, Ko Wiwih kata-katanya pedas, dan itulah gaya Ko Wiwih, “Tapi yang paling berkesan Ko Wiwih sangat perhatian kepada anak didiknya, mulai dari memberi makan dan memberi uang jajan,” ujar Gerri.

“Ko Wiwih mengajarkan kepada kita agar jangan mau dikasihani orang, justru kita harus banyak memberi kepada orang, dan saya sempat dimarahi Ko Wiwih agar jangan memberitahu orang-orang Ko Wiwih dirawat di rumah sakit, Ko Wiwih mengatakan dirinya tidak mau menyusahkan orang-orang,” ujar Gerri.

Di akhir paparannya Gerri mengungkapkan, Ko Wiwih memang bercita-cita membesarkan Perguruan Silat Riksa Diri, dan Ko Wiwih memang ingin disebut orang Silat.

Salah satu pelayat Ko Wiwih bernama Ema Sukaemah dari LSM Bina Eka Lestari, yang bergerak di bidang penelitian dan pendidikan khususnya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak mengatakan, memang Ko Wiwih merupakan Ketua Pembina LSM Bina Eka Lestari.

“Kami memang sedang ada program khusus bagaimana mempersiapkan generasi berikut yang siap untuk menjadi manusia-manusia yang sehat, baik lahir maupun bathin, juga menjadi SDM Indonesia yang tidak lupa dengan jati diri, khususnya kita sebagai orang Sunda, dan orang Jawa Barat yang tentunya harus ikut melestarikan budaya yang saat ini sedang diserbu budaya luar,” kata Ema.

“Kami sebetulnya sedang menyusun beberapa kegiatan dengan Almarhum Ko Wiwih, terutama yang berhubungan dengan edukasi untuk mencerdaskan calon ibu, karena merekalah yang nanti akan membimbing SDM berikutnya,” ungkap Ema.

“Saat ini generasi sekarang sudah banyak yang keluar dari pakem, seperti dua minggu lalu saya berdiskusi dengan Almarhum Ko Wiwih membahas terjemahan bencana yang sudah sangat meluas, bukan hanya bencana alam, karena memang bukan hanya alam yang rusak, justru yang terjadi saat ini adalah bencana sosial khususnya yang berhubungan dengan perubahan perilaku,” ungkap Ema.

“Oleh karena itu Almarhum Ko Wiwih sangat concern ingin meneruskan kegiatan yang disokong oleh budaya lokal, karena mengusung kerjasama, gotong royong, cinta sesama, yang sekarang sudah mulai hilang khususnya di generasi milenial, yang barangkali memang karena zaman, mau tidak mau mengikuti teknologi IT yang berkembang sangat pesat tanpa sengaja mengarahkan anak-anak menjadi individualis,” kata Ema.

“Intinya program yang akan kita kembangkan di Eco Bambu itu bagaimana sebagai anak bangsa membela negara, bahkan Kepala Negara mencanangkan Ibu Bela Negara, dalam artian bukan berperang secara fisik, justru kita bela negara dengan menyiapkan generasi berikut yang akan siap secara fisik dan mental, bukan hanya pandai secara intelektual, tapi punya karakter sebagai orang Jawa Barat, khususnya sebagai orang Sunda, sebagai orang Indonesia pada umumnya, sebagai makhluk Allah, di mana sekarang ini empati terhadap sesama sudah mulai berkurang, bahkan unsur-unsur egoisme sudah semakin mudah terlihat, mementingkan diri sendiri tanpa melihat kiri kanan, itulah inti utama yang akan dikembangkan kami bersama Almarhum Ko Wiwih,” kata Ema.

“Almarhum Ko Wiwih sempat berpesan yaitu, ketika kita diberikan sebuah tantangan, jangan dulu berkecil hati dan merasa tidak mampu melakukan tantangan tersebut, karena selama Yang Maha Kuasa memberi kita akal, kita akan bisa mencari jalan bagaimana mencapai tantangan tersebut,” ungkap Ema.

“Almarhum Ko Wiwih itu sangat kuat empatinya, dan keinginan membantu orang lain sangat kuat tanpa melihat status, tanpa melihat dia siapa, Almarhum Ko Wiwih selalu terus memberi kita semangat,” ujar Ema.

“Almarhum Ko Wiwih mengatakan, pembelajaran dapat diperoleh dari pengalaman, yang penting bukan hasilnya tetapi prosesnya dan itulah yang membuat kita kaya intelektual, kaya bathin, dan kaya emosi,” ungkap Ema.

“Almarhum Ko Wiwih berpesan, apabila dalam suatu kegiatan ingin berhasil maka kita harus mengikuti apa yang sedang dibutuhkan pemerintah,” ungkap Ema.

“Karena terkadang apa yang dibutuhkan masyarakat tidak disukai pemangku kebijakan, sementara yang dikeluarkan oleh pemangku kebijakan tidak dimengerti dan diharapkan oleh masyarakat, maka kita harus mencari titik tengah agar masyarakat bisa merasakan program-program dari pemerintah, dan yang akan kita majukan adalah program-program yang nge-click dengan program pemerintah khususnya pemerintah Jawa Barat,” pungkas Ema. (BRH)