Foodizz Bagikan Apa yang Terjadi di Industri Kuliner Indonesia 2021 dan 2022

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Foodizz, perusahaan di bidang teknologi edukasi yang berfokus pada pendidikan bisnis kuliner di Indonesia, berkolaborasi bersama DEKA Insight, membagikan hasil riset mengenai Indonesia F&B Market Research 2021, dengan tema: Special Research & Insight Release, “Indonesian Eating Out Behaviour in New Normal”.

Adapun hasil riset ini dibagikan di acara “Special Kopdar Foodizz Online yang ke-20″, Senin, (11/10/2021), secara gratis, melalui aplikasi Zoom.

Acara yang dihadiri 324 peserta secara Live ini menghadirkan para nara sumber di antaranya, Sri Mulyono (Associate Research Director of DEKA), Budi Isman (CEO Mikro Investindo & Pro Indonesia Foundation), Irvan Helmi (Direksi/ Co Founder Anomali Coffee), dan Anggara Jati (Komisaris PT Agrinesia Raya), dan sebagai moderator, GM Corporate Communication Foodizz, Sarita Sutedja.

CEO Foodizz Rex Marindo dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini akan sangat penting untuk menjadi pertimbangan, menjadi insight, dan informasi, “Di mana kita bisa menyusun strategi tiga bulan ke depan, khususnya di tahun 2022,” ujarnya.

Riset ini sendiri melibatkan 1.000 responden di lima kota, untuk mengetahui apa saja insight penting yang bisa diambil oleh pemain kuliner di seluruh Indonesia.

Beberapa poin yang di bahas dalam insight ini antara lain:

  • Platform yang saat ini mendominasi (selalu di akses) oleh tiga generasi yaitu Gen Z, Gen Y,
    Gen X dan Baby Boomers
  • Perkembangan TikTok sebagai media untuk boosting brand awareness
  • Habit makan ditempat (dine in)
  • Type or restaurant dine in
  • Key driver dalam memilih restaurant untuk dine in
  • To be prioritized untuk membangun bisnis fast food, general restaurant padang, mie bakso dan sate, ayam, bebek, seafood
  • Key highlights delivery
  • Budget for delivery order

Secara bergantian semua narasumber berbagi tentang pentingnya memperhatikan insight dalam menjalankan bisnis kuliner.

Komisaris PT Agrinesia Raya, Anggara Jati dalam kegiatan ini mengatakan, riset sangat penting dalam dunia bisnis F&B, “Kalau hanya memakai feeling, tidak bisa dijadikan sistem,” ujarnya,

“Insting itu dibentuk selama bertahun-tahun, pengalaman trial and error,” ungkap Anggara Jati, “Hal itu tidak bisa didelegasikan dan dijadikan sistem, jadi jika akan membuat perusahaan yang sustainable harus memakai data,” ujarnya.

Pada Kopdar kali ini, dibahas mengenai cutomer behavior, kapan idealnya riset dilakukan, dan seberapa penting sebuah riset untuk menyusun perencanaan strategis bisnis kuliner.

CEO Mikro Investindo & Pro Indonesia Foundation, Budi Isman mengatakan, tanpa dukungan research yang kuat dengan research agency yang credible, stakeholder belum tentu percaya 100 persen, apalagi jika melakukan sesuatu yang signifikan perubahannya.

“Harus mempunyai kekuatan yang cukup tinggi dalam analisa dan validasi, siapa yang menguasai data, itulah yang akan menguasai bisnisnya,” tegas Budi Isman.

Direksi/ Co Founder Anomali Coffee Irvan Helmi menambahkan, bisnis itu analoginya seperti perjalanan, “Journey lebih seru jika memiliki tujuan, dengan begitu tujuan mesti memiliki kompas atau arah,” ujarnya

“Data di zaman digital ini, semakin mudah kita terima, baik itu formal ataupun kita lakukan sendiri, maka makin relevan kita build our compas, karena lebih canggih dengan riset,” kata Irvan Helmi, “Tanpa adanya kompas sebagai petunjuk arah, nanti tidak sampai-sampai ke tujuan,” pungkasnya.

Seperti diketahui, merencanakan bisnis itu bukan hanya instuisi saja, tetapi digabungkan dengan data, fakta, dan informasi.

Kopdar Online Foodizz ini sendiri adalah kegiatan talkshow virtual yang membahas topik-topik hangat dalam bidang kuliner, untuk memberikan informasi dan insight bagi Foodpreneurs. (BRH / RLS)